TRIBUNNEWS.COM - Di tengah perang yang berkecamuk, struktur kekuasaan di Iran dilaporkan mengalami pergeseran.
Keputusan tertinggi yang biasa dilakukan oleh Pemimpin Tertinggi, kini bergeser ke Korps Garda Revolusi Iran (IRGC).
Laporan terbaru dari Reuters mengungkap bahwa Teheran saat ini tidak lagi dikendalikan oleh satu suara tunggal dari kalangan ulama.
Sebaliknya, kendali negara kini berpusat pada lingkaran elit yang jauh lebih radikal dan berbasis pada kekuatan keamanan.
Kondisi perang memaksa Iran memusatkan pengambilan keputusan pada Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (SNSC) dan IRGC.
Para pengamat menilai, Garda Revolusi kini tidak hanya memegang komando di medan tempur, tetapi juga mendikte arah kebijakan politik luar negeri Iran.
"Kita sedang menyaksikan transisi dari kekuasaan berbasis agama ke kekuatan militer yang nyata," ujar salah satu pengamat politik internasional.
Wafatnya Pemimpin Agung Ayatollah Ali Khamenei di awal konflik disebut menjadi titik balik hilangnya penyeimbang di internal pemerintahan.
Meskipun posisi Pemimpin Agung kini dijabat oleh putranya, Mojtaba Khamenei, peran tersebut dinilai lebih bersifat seremonial.
Kendali nyata atas program nuklir dan strategi regional sepenuhnya berada di tangan komandan IRGC.
Bagi Barat, pergeseran ini menjadi sinyal merah.
Baca juga: 857 Pencegat THAAD Diusulkan AS di Tengah Menipisnya Stok Rudal, Akibat Konflik Lawan Iran?
Dominasi militer diprediksi akan membuat Iran semakin sulit untuk diajak bernegosiasi.
Alih-alih mencari jalan damai, faksi militer di Teheran cenderung memilih jalur konfrontasi dan perlawanan terhadap tekanan sanksi AS.
Kondisi Fisik Mojtaba Khamenei jadi Alasan
Mengutip laporan The New York Times, kondisi fisik Mojtaba yang mengalami luka bakar serius dan cedera fisik permanen membuatnya tidak mampu berkomunikasi secara normal.
Mojtaba dilaporkan telah bersembunyi sejak serangan AS dan Israel pada 28 Februari 2026 yang menewaskan ayahnya dan membuatnya terluka parah.
Baca tanpa iklan