Rusia Cari Celah di Tengah Perang AS-Iran, Putin Rayu Trump Bawa Uranium Iran ke Rusia
TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan kalau Presiden Rusia, Vladimir Putin, dalam sebuah percakapan telepon, menawarkan bantuannya dalam menyelesaikan masalah soal program nuklir Iran.
Trump mengatakan, Putin menawarkan untuk membawa uranium Iran yang terkubur ke Rusia.
Pihak Kremlin juga mengkonfirmasi kalau Putin mengemukakan ide-ide untuk menyelesaikan konflik terkait program nuklir Iran.
Baca juga: Mantan Analis CIA: Operasi Penyelamatan Pilot Cuma Kedok, Target AS Curi 400 Kg Uranium
Presiden AS menolak tawaran Putin tersebut dan berkelit dengan mengatakan kalau dia ingin mengakhiri perang Rusia-Ukraina terlebih dahulu.
Dengan menyatakan kalau dia telah melakukan "percakapan yang sangat baik" dengan Putin, Trump mengatakan kalau dia menepikan usulan presiden Rusia untuk "terlibat" dalam konflik Iran-AS.
"Saya mengatakan, kalau saya lebih suka Anda (Putin) terlibat dalam mengakhiri perang dengan Ukraina. Saya katakan, sebelum Anda membantu saya, saya ingin mengakhiri perang Anda," kata Trump dalam percakapan telepon dengan Putin.
Dengan 'rayuan' Putin ini, Rusia telah beberapa kali berupaya untuk mengambil uranium Iran.
Upaya Rusia untuk Mendapatkan Uranium Iran
Rusia menggunakan logika sederhana saat mengusulkan ide pemindahan uranium yang diperkaya Iran ke negara mereka.
Pendekatan yang digunakan adalah, AS dan Israel menganggap Iran adalah ancaman nyata lewat kepemilikan uranium.
Deterrence alias tindak pencegahan yang AS-Israel lakukan lewat serangan langsung ke Teheran pada 28 Februari 2026 silam memicu pergolakan hebat, termasuk penutupan Selat Hormuz yang memeranguhi ekonomi dunia.
Kalau uranium Iran yang menjadi masalah bagi AS-Israel, Rusia menawarkan agar uranium itu dipindah saja dari Iran ke Rusia.
Usulan ini jelas ditolak AS yang secara senyap tetap mewaspadai Rusia sebagai ancaman berikutnya bagi keamanan mereka.
Terlepas dari naik-turunnya hubungan kedua negara, 'keakraban' Trump-Putin menjadi faktor lain usulan Rusia ini terlontar.
Rusia pertama kali mengusulkan pada Juni 2025, setelah Israel dan AS menyerang Iran, bahwa mereka siap untuk mengambil alih persediaan uranium Iran, tetapi tidak ada tindakan yang diambil.
Negara yang dipimpin Vladimir Putin itu mengajukan tawaran serupa minggu ini, namun, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov dikutip mengatakan bahwa Amerika telah menolak tawaran tersebut.
Perlu dicatat, Rusia memiliki salah satu persediaan senjata nuklir terbesar di dunia.
"Rusia siap menerima uranium yang diperkaya Iran di wilayahnya," kata juru bicara Kremlin Dmitry Peskov kepada saluran televisi India India Today, seperti yang dilaporkan oleh kantor berita negara RIA.
"Ini akan menjadi keputusan yang baik. Tetapi sayangnya pihak Amerika menolak proposal ini," tambahnya.
Sebelumnya, Peskov mengatakan, "Proposal ini dibuat oleh Presiden Putin dalam pembicaraan dengan Amerika Serikat dan negara-negara regional. Tawaran itu masih berlaku, tetapi belum ditindaklanjuti."
Tahun lalu, seorang wakil menteri luar negeri Rusia mengisyaratkan bahwa Rusia bersedia untuk menarik persediaan senjata nuklir dari Iran dan mengubahnya menjadi bahan bakar reaktor sipil untuk membantu memfasilitasi negosiasi.
Mengapa Rusia Menginginkan Uranium Iran?
Motivasi utama Rusia untuk mengambil uranium Iran boleh jadi merupakan cara untuk memproyeksikan diri sebagai mediator utama dalam kebuntuan negosiasi nuklir antara Teheran dan AS.
Hal ini menjadi menarik karena Menteri Luar Negeri Iran Araghchi melakukan perjalanan ke Rusia untuk pertemuan tingkat tinggi dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov.
Karena Teheran lebih mempercayai Moskow daripada Washington, Rusia menawarkan lokasi yang aman untuk persediaan uranium yang memuaskan Iran sekaligus membangun hegemoni moral atas tuntutan AS.
Rusia telah mengusulkan untuk mengubah material yang sangat diperkaya tersebut menjadi bahan bakar untuk reaktor nuklir sipil, yang berpotensi menguntungkan perusahaan nuklir negara mereka sendiri, Rosatom.
Namun, uranium yang diperkaya rendah umumnya digunakan untuk reaktor nuklir sipil.
Uranium yang sangat diperkaya berpotensi digunakan dalam senjata nuklir.
Menurut AS, Iran memiliki sekitar 450 kilogram uranium yang diperkaya hingga kemurnian 60 persen, sekitar 1.000 kilogram yang diperkaya hingga 20 persen, dan sekitar 8.500 kilogram yang diperkaya hingga 3,6 persen.
Persediaan 60 persen tersebut sensitif karena dianggap hanya selangkah teknis pendek dari pengayaan tingkat senjata sekitar 90 persen.
Hal itu membuat uranium Iran istimewa.
Beberapa analis juga menunjukkan bahwa uranium yang diperkaya yang berada di bawah kendali Rusia memberi mereka keunggulan dalam perang hegemoni dengan Barat dan pengaruh strategis di dunia yang dilanda perang.
Baca tanpa iklan