Memasuki akhir April, istri dari penumpang tersebut jatuh sakit setibanya di Johannesburg dan meninggal dunia.
Sementara itu, pada 27 April, seorang pria Inggris harus dievakuasi dari Pulau Ascension ke Johannesburg karena mengalami gejala pneumonia berat.
Kapal MV Hondius sendiri sempat tertahan di lepas pantai Tanjung Verde setelah ditolak berlabuh di beberapa pelabuhan, sebelum akhirnya diizinkan menuju Kepulauan Canary, Spanyol, untuk proses skrining.
Bukan Hantavirus yang Biasa
Terkait karakteristik virus, Pemerintah Afrika Selatan menekankan bahwa jenis virus Andes berbeda dengan Hantavirus pada umumnya.
"Ini adalah satu-satunya strain yang diketahui menyebabkan penularan dari manusia ke manusia, namun penularan tersebut sangat jarang terjadi dan seperti yang disebutkan sebelumnya, hanya terjadi karena kontak yang sangat dekat." ungkap pihak NICD sebagaimana dilaporkan oleh The Star:
Sebagai perbandingan, galur Hantavirus lainnya biasanya menular melalui kontak dengan tikus atau kotorannya.
Namun, mengutip dari WHO, virus Andes yang ditemukan di Amerika Selatan merupakan satu-satunya Hantavirus dengan dokumentasi transmisi antarmanusia yang terbatas, biasanya terjadi pada fase awal penyakit saat beban virus (viral load) sedang tinggi.
Hingga saat ini tidak ditemukan bukti penularan melalui udara seperti virus pernapasan pada umumnya.
Menariknya, tidak ditemukan keberadaan tikus di dalam kapal MV Hondius, sehingga muncul dugaan bahwa penularan awal berasal dari paparan di Argentina sebelum keberangkatan.
Hal ini terjadi mengingat gejala penyakit Hantavirus biasanya muncul 1 hingga 8 minggu setelah terpapar.
Saat ini, kapal MV Hondius tengah bersiap melanjutkan perjalanan menuju Eropa setelah mendapat izin berlabuh di Kepulauan Canary untuk proses disinfeksi dan observasi.
Seluruh penumpang dan kru diwajibkan menjalani karantina ketat.
Baca juga: Masyarakat Indonesia Memiliki Kondisi yang Meningkatkan Kerentanan terhadap Hantavirus
Otoritas kesehatan Afrika Selatan pun terus memantau perkembangan pasien dan melakukan pelacakan kontak erat.
Meski WHO menilai risiko terhadap masyarakat umum masih rendah, para ahli dari UCLA dan University of Queensland mengingatkan bahwa kejadian ini menjadi peringatan penting akan potensi penyebaran penyakit zoonotik di lingkungan tertutup.
Mengutip dari pernyataan penutup Menteri Motsoaledi, masyarakat diimbau untuk tetap tenang karena belum ada bukti penularan lokal di luar kasus impor tersebut, sementara koordinasi internasional antarnegara terus diperkuat.
(Tribunnews.com/Bobby)
Baca tanpa iklan