TRIBUNNEWS.COM - Presiden AS Donald Trump menolak tanggapan Iran terhadap proposal perdamaian dan menyebutnya sama sekali tidak dapat diterima.
Sebelumnya, Iran telah menyerahkan jawaban atas proposal AS melalui mediator Pakistan.
Kantor berita semi-resmi Tasnim, mengutip sumber yang mengetahui masalah tersebut, melaporkan pada Minggu (10/5/2026) malam bahwa teks usulan Iran untuk negosiasi menekankan perlunya pencabutan sanksi AS, penghentian blokade angkatan laut AS di Selat Hormuz setelah penandatanganan nota kesepahaman awal, serta diakhirinya perang dengan jaminan tidak ada serangan baru terhadap Iran.
AS sebelumnya mengajukan proposal perdamaian sekitar sepekan lalu.
Proposal itu dilaporkan berupa nota kesepahaman satu halaman berisi 14 poin yang akan membuka kembali Selat Hormuz sekaligus menetapkan kerangka pembicaraan lanjutan mengenai program nuklir Iran.
Parameter AS dalam perundingan nuklir dilaporkan mencakup moratorium pengayaan nuklir Iran hingga 20 tahun, pemindahan persediaan uranium yang sangat diperkaya (HEU) Iran ke luar negeri (kemungkinan ke AS), serta pembongkaran fasilitas nuklir Iran.
Menurut Wall Street Journal, proposal balasan Iran mengusulkan moratorium yang lebih singkat, ekspor sebagian persediaan HEU dan pengenceran sisanya, serta penolakan terhadap pembongkaran fasilitas nuklir.
Trump kemudian menanggapi dengan mengatakan, “Saya baru saja membaca tanggapan dari apa yang disebut ‘perwakilan’ Iran. Saya tidak menyukainya, sama sekali tidak dapat diterima.”
Sebelumnya pada hari yang sama, Trump mengunggah pernyataan panjang di platform Truth Social yang menuduh Iran telah mempermainkan Amerika Serikat dan dunia selama 47 tahun.
Mengutip The Guardian, Trump berada di bawah tekanan besar untuk mempertahankan gencatan senjata dan berpotensi mencapai kesepakatan damai sebelum kunjungannya ke China pekan ini.
China sendiri mendorong penghentian permusuhan dan pembukaan kembali selat tersebut.
Baca juga: Klaim Donald Trump Telah Kalahkan Iran Dipatahkan Ancaman Sabotase Kabel Bawah Laut
Dua isu utama yang diperkirakan menjadi inti pembicaraan nuklir di masa depan antara AS dan Iran adalah nasib 440 kilogram uranium yang diperkaya hingga kemurnian 60 persen (mendekati tingkat senjata nuklir) serta penghentian pengayaan uranium.
Dalam wawancara dengan media pemerintah Iran pada Sabtu malam, seorang juru bicara militer mengatakan pasukan negaranya berada dalam kesiapan penuh untuk melindungi persediaan tersebut.
“Kami menganggap ada kemungkinan mereka bermaksud mencurinya melalui operasi infiltrasi atau operasi menggunakan helikopter,” kata Brigjen Akrami Nia.
Trump dilaporkan telah diberi opsi militer untuk merebut HEU (uranium yang sangat diperkaya), tetapi operasi tersebut disebut membutuhkan banyak pasukan dan waktu berminggu-minggu.
Baca tanpa iklan