TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Jet tempur siluman F-35 Lightning II milik Amerika Serikat dilaporkan mengirimkan sinyal darurat saat melintas di atas Laut Oman, dekat Selat Hormuz, Minggu (10/5/2026).
Insiden itu langsung memicu spekulasi bahwa pesawat generasi kelima tersebut kemungkinan terkena serangan Iran di tengah meningkatnya ketegangan militer di kawasan Teluk.
Berdasarkan data pelacak penerbangan internasional, jet tempur generasi kelima itu memancarkan kode transponder "7700", yang merupakan sinyal universal untuk keadaan darurat umum (general emergency).
Sinyal tersebut terdeteksi saat pesawat berada di dekat wilayah Semenanjung Arab, sebuah area yang kini menjadi zona panas akibat penutupan Selat Hormuz oleh militer Iran terhadap lalu lintas kapal-kapal yang dianggap bermusuhan.
Pihak Teheran melalui media pemerintah dan saluran militer segera mengklaim bahwa gangguan pada sistem F-35 tersebut bukanlah kecelakaan teknis semata.
"Unit pertahanan udara kami terus memantau setiap pergerakan aset asing yang mencoba melanggar batas kedaulatan atau melakukan manuver provokatif di zona identifikasi pertahanan udara kami," ujar seorang pejabat militer Iran dalam laporan yang dikutip dari WION.
Lebih lanjut, pihak Iran memberikan indikasi bahwa status darurat jet tempur tersebut berkaitan dengan sistem pertahanan elektronik atau kinetik yang mereka miliki.
"Kedaulatan udara kami tidak bisa diganggu gugat, dan setiap upaya untuk menguji kesiapan Iran akan mendapatkan respons yang sepadan, baik terlihat maupun tidak terlihat di radar," tegas pejabat anonim tersebut, merujuk pada spekulasi penggunaan pengacau sinyal (jammer) atau sistem rudal jarak jauh.
Namun, hingga berita ini diturunkan, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) belum memberikan konfirmasi resmi mengenai apakah pesawat tersebut mengalami kegagalan mekanis atau mendapat serangan.
Dalam pernyataan singkatnya, pihak militer hanya menyebutkan bahwa keselamatan awak pesawat adalah prioritas utama dan penyelidikan terhadap status armada di kawasan tersebut sedang berlangsung secara internal.
Titik didih
Selat Hormuz sendiri menjadi salah satu titik paling panas dalam konflik terbaru AS-Iran.
Jalur sempit itu merupakan rute vital perdagangan energi dunia karena sekitar seperlima distribusi minyak global melewati kawasan tersebut.
Ketegangan meningkat setelah Iran dan Amerika Serikat saling melancarkan operasi militer dalam beberapa pekan terakhir.
Amerika Serikat sebelumnya menggelar “Operation Project Freedom”, operasi militer untuk mengawal kapal-kapal dagang melintasi Selat Hormuz di tengah ancaman Iran.
Baca tanpa iklan