News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Pengantin Baru Korban Tewas Erupsi Gunung Dukono di Halmahera

Penulis: Hasanudin Aco
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Shahin Muhrez Abdul Hamid, 27 tahun, meninggal di puncak Gunung Dukono setelah terjadi letusan pada tanggal 8 Mei.

Ringkasan Berita:

  • Shahin Muhrez Abdul Hamid, satu dari dua warga Singapura yang tewas dalam letusan Gunung Dukono, dikenang sebagai pencinta alam dan pendaki gunung. 
  • Pria 27 tahun itu meninggal bersama rekannya, Timothy Heng, saat berusaha turun gunung setelah letusan besar pada 8 Mei 2026.
  • Shahin diketahui baru menikah dengan Nurina Iffah Jusmani pada Oktober 2025 dan bekerja sebagai teknisi di ExxonMobil.

TRIBUNNEWS.COM, SINGAPURA - Satu dari dua warga Singapura yang meninggal dalam letusan Gunung Dukono adalah Shahin Muhrez Abdul Hamid (usia 27 tahun).

Gunung Dukono yang terletak di Halmahera Utara, Maluku Utara,  mengalami letusan besar pada Jumat, 8 Mei 2026 pukul 07.41 WIT dengan kolom abu mencapai 10.000 meter.

Selain Shahin, korban kedua warga Singapura bernama Timothy Heng, berusia 30 tahun.

Heng dan Shahin adalah bagian  20 pendaki — sembilan warga Singapura dan 11 warga Indonesia — yang mendaki gunung aktif tersebut pada 7 Mei.

Tragedi itu juga merenggut nyawa seorang pendaki wanita asal Indonesia.

Dalam sebuah wawancara dengan The Straits Times, pemandu asal Indonesia, Reza Selang, yang memimpin ekspedisi tersebut mengatakan bahwa Heng  kembali mendaki gunung untuk menyelamatkan temannya.

Melihat  Shahin tidak sadarkan diri, Heng yang mengatur perjalanan tersebut, melakukan resusitasi jantung paru (CPR).

Shahin sadar kembali tetapi tidak dapat bergerak.

Saat Reza dan Heng berusaha membawanya turun gunung sementara abu panas dan batu berjatuhan, sebuah batu besar jatuh dan menjepit kedua warga Singapura itu di antara bebatuan.

Karena tidak dapat memindahkan batu besar itu dan tidak punya pilihan lain, Reza berlari kembali menuruni gunung untuk menyelamatkan diri.

Pendaki gunung

Ibunda Shahin bernama Noraini Ibrahim mengatakan kepada surat kabar berbahasa Melayu Berita Harian bahwa mengetahui kematian putranya terasa "seperti tembok yang selama ini saya sandari runtuh."

Sebagai anak bungsu dari empat bersaudara, guru berusia 64 tahun itu menggambarkan putranya sebagai penyemangat keluarga.

“Semua pengabdian dan cintanya tak tergantikan.”

Shahin memang dikenal senang berpetualang dan mendaki gunung.

Baru menikah

Shahin meninggalkan istrinya, Nurina Iffah Jusmani, yang juga berusia 27 tahun.

Pasangan ini menikah pada Oktober tahun lalu dan baru saja menerima tinggal di sebuah apartemen di Sengkang, Singapura.

Shahin bekerja sebagai teknisi di ExxonMobil.

Nurina menggambarkan suaminya sebagai seorang pencinta alam, yang baru saja menaklukkan puncak Gunung Kinabalu di Sabah beberapa bulan yang lalu.

Sebagai penggemar hiking,  Shahin telah mendaki tiga gunung ketika ia melakukan perjalanan ke wilayah Maluku Utara, tempat Gunung Dukomo berada.

“Meskipun Allah hanya meminjamkan Shahin kepadaku selama enam bulan, namun dalam waktu singkat itulah aku menerima jenis cinta yang tak tertandingi,” katanya.

Mengutip pernyataan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Indonesia, status siaga gunung berapi tersebut tetap berada di level 'Waspada', level tertinggi kedua, sejak 29 Maret karena aktivitas erupsi gunung berapi yang masih aktif.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), badan vulkanologi Indonesia, dalam sebuah pernyataan pada 8 Mei mengatakan bahwa letusan terjadi pada pukul 07.41 (waktu setempat) dan menyemburkan abu setinggi 10 kilometer ke udara.

Sumber: Berita Harian/ST

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini