Ledakan komoditas pada era 2000-an hingga awal 2010-an semakin memperkuat posisi sentral China dalam ekonomi global.
Pada tahun 2012, China resmi menjadi ekonomi terbesar kedua di dunia sekaligus meningkatkan kesejahteraan banyak mitra dagangnya.
Permintaan besar China terhadap komoditas seperti bijih besi, kedelai, tembaga, dan minyak menguntungkan negara-negara kaya sumber daya alam di belahan bumi selatan.
Brasil, Iran, Nigeria, dan Rusia menjadi beberapa negara berkembang yang paling diuntungkan dari kenaikan harga komoditas tersebut.
Di sisi lain, sektor manufaktur China juga menjadi alternatif berbiaya rendah bagi perusahaan-perusahaan di Amerika Utara, Eropa Barat, dan Asia Timur.
Banyak pabrik memindahkan produksi ke China, sementara konsumen global menikmati harga barang yang lebih murah.
Pada tahun 2025, China telah menjadi mitra dagang dominan di sebagian besar wilayah Asia, Afrika, Amerika Selatan, dan Timur Tengah.
Seluruh ekonomi utama di Amerika Selatan, kecuali Kolombia dan Venezuela, kini lebih banyak berdagang dengan China dibandingkan AS.
Di Afrika, hanya Lesotho dan Eswatini yang masih lebih banyak berdagang dengan Amerika Serikat dibandingkan China.
Sementara itu, Amerika Serikat masih mempertahankan dominasi perdagangan di sebagian besar Amerika Utara.
Namun di kawasan Timur Tengah dan Indo-Pasifik, Israel menjadi satu-satunya ekonomi besar yang masih lebih banyak berdagang dengan AS dibandingkan dengan China.
Baca juga: KTT Beijing Berakhir Minim Sepakat, Tiongkok Bungkam Klaim Dagang Sepihak Donald Trump
Eropa sendiri masih terbagi dalam dua kubu.
Prancis, Jerman, Italia, dan Inggris tetap lebih banyak berdagang dengan Amerika Serikat, sedangkan negara-negara seperti Polandia dan Spanyol memperkuat hubungan dagang mereka dengan China.
Untuk Indonesia, data menunjukkan bahwa pada tahun 2000 Indonesia lebih banyak menjalin kerja sama perdagangan dengan AS.
Namun, pada tahun 2025, posisi tersebut bergeser dan Indonesia menjadi lebih condong ke China.
Baca tanpa iklan