News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Konflik Rusia Vs Ukraina

Zelenskyy: Rusia Gunakan 3.170 Drone Serang dalam Sepekan

Penulis: Yunita Rahmayanti
Editor: Febri Prasetyo
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

ZELENSKYY BERPIDATO - Foto diunduh dari laman Presiden Ukraina, Selasa (13/1/2026), memperlihatkan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy saat mendengarkan laporan Dinas Keamanan Ukraina pada 10 Januari 2026. Pada 17 Mei 2026, Zelenskyy mengatakan Rusia menggunakan 3.170 drone serang, 1.300 bom udara berpemandu, serta 74 rudal dengan berbagai jenis.

Di wilayah Zaporizhzhia, sebuah mobil terkena serangan Rusia, melukai seorang wanita dan seorang pria.

Di wilayah Kherson , kantor kejaksaan wilayah mengatakan sebuah pesawat tak berawak menjatuhkan bahan peledak di sebuah rumah, menewaskan seorang pria, sementara delapan warga sipil terluka dalam serangan di kota-kota dan permukiman di wilayah tersebut.

Drone Ukraina Jatuh di Lithuania

Sebuah drone militer Ukraina yang diduga jatuh di Lithuania pada hari Minggu, menurut penjelasan pusat manajemen krisis pemerintah Lithuania.

"Drone tersebut tidak terdeteksi saat memasuki Lithuania, dan tidak dipersenjatai dengan bahan peledak," kata kepala pusat tersebut, Vilmantas Vitkauskas.

Drone tersebut ditemukan jatuh di desa Samane, kata pusat tersebut, 40 km dari perbatasan Latvia dan 55 km dari Belarus.

Sementara Ukraina belum memberikan komentar.

Secara terpisah, militer Latvia mengatakan peringatan drone dikeluarkan pada Minggu pagi di sepanjang perbatasannya dengan Rusia, dan pasukan militer NATO dipanggil ke daerah tersebut.

Satu drone memasuki Latvia untuk waktu singkat selama peringatan tersebut, kata militer.

Sejak Maret, beberapa drone Ukraina yang tersesat telah memasuki wilayah udara negara anggota NATO, Latvia, Lithuania, dan Estonia, yang berbatasan dengan Rusia dan sekutunya, Belarus.

Kyiv bersikeras bahwa drone tersebut ditujukan pada target militer di Rusia tetapi dialihkan jalurnya oleh tindakan balasan Rusia.

Perdana Menteri Latvia, Evika Silina, memecat menteri pertahanannya setelah salah satu insiden tersebut, yang menyebabkan jatuhnya pemerintahannya.

Komandan Ukraina Bela Serangan Jarak Jauh di Wilayah Rusia

Komandan pasukan drone Ukraina membela serangan jarak jauh Ukraina ke Rusia.

Dalam sebuah wawancara dengan Agence France-Presse (AFP), Robert Brovdi, yang dikenal sebagai “Madyar”.

“Sumber pendanaan untuk pengeluaran perang Putin… telah menjadi target militer yang sah dan prioritas di area mana pun, di bagian mana pun dari wilayah negara pendudukan, baik itu di selatan, Ural, atau Siberia," kata Robert Brovdi.

Wawancara tersebut diberikan sebelum Ukraina meluncurkan gelombang lebih dari 600 drone ke Rusia pada akhir pekan.

Latar Belakang Perang Rusia Vs Ukraina

Perang antara Rusia dan Ukraina secara terbuka dimulai pada 24 Februari 2022 saat Rusia melancarkan invasi militer besar-besaran ke Ukraina. Meski begitu, akar konflik kedua negara sebenarnya sudah muncul sejak bubarnya Uni Soviet yang membuat Ukraina berdiri sebagai negara merdeka dan mulai menentukan kebijakan politiknya sendiri.

Dalam perkembangannya, Ukraina semakin mendekat ke negara-negara Barat melalui hubungan dengan Uni Eropa dan Amerika Serikat. Kondisi tersebut dipandang Rusia sebagai ancaman terhadap pengaruh serta keamanan negaranya di kawasan Eropa Timur.

Ketegangan semakin meningkat pada tahun 2014 setelah terjadinya Revolusi Maidan yang menggulingkan pemerintahan Ukraina yang dinilai dekat dengan Moskow. Pada tahun yang sama, Rusia menganeksasi Krimea dan konflik bersenjata pecah di wilayah Donbas antara militer Ukraina dan kelompok separatis yang mendapat dukungan dari Rusia. Sejak saat itu, hubungan kedua negara terus memburuk.

Berbagai upaya diplomasi dan perundingan damai sebenarnya telah dilakukan oleh sejumlah pihak internasional, namun belum mampu menghasilkan penyelesaian permanen. Konflik mencapai titik puncak ketika Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan operasi militer pada Februari 2022 dengan alasan melindungi warga berbahasa Rusia dan mencegah perluasan NATO di dekat perbatasan Rusia.

Sebagai respons, negara-negara Barat menjatuhkan sanksi ekonomi kepada Rusia dan meningkatkan bantuan militer maupun finansial untuk Ukraina. Hingga kini, perang masih terus berlangsung dan belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir.

Di tengah situasi tersebut, jalur diplomasi tetap diupayakan. Amerika Serikat mencoba berperan dalam proses mediasi, sementara Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy terus mendorong pembicaraan damai, termasuk membuka peluang keterlibatan Turki sebagai mediator.

Meski demikian, pihak Kremlin menegaskan bahwa pertemuan langsung antara Putin dan Zelenskyy hanya dapat dilakukan apabila kedua pihak telah mencapai kesepahaman awal yang jelas. Sampai saat ini, proses menuju perdamaian masih menghadapi tantangan yang besar.

(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini