Ringkasan Berita:
- AS menyerang kapal tanker dan fasilitas militer Iran di Pulau Qeshm, sementara Iran membalas dengan serangan rudal dan drone ke target yang terkait dengan AS di kawasan Teluk.
- Pulau Qeshm memiliki posisi strategis di dekat Selat Hormuz dan menjadi pusat operasi penting bagi militer Iran dalam mengawasi jalur pelayaran internasional.
- Menurut pakar Timur Tengah Alan Eyre, berakhirnya konflik AS-Iran belum tentu membawa perdamaian
TRIBUNNEWS.COM - Amerika Serikat (AS) dan Iran melancarkan serangan baru di tengah terhentinya perundingan gencatan senjata.
Dilansir Guardian, militer AS mengatakan telah menyerang kapal tanker dan sejumlah lokasi di Pulau Qeshm, Iran.
Pasukan AS menembakkan rudal Hellfire untuk melumpuhkan sebuah kapal tanker yang mencoba menerobos blokade Amerika di Selat Hormuz pada Selasa (2/6/2026).
Sementara itu, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengatakan telah menyerang markas Armada Kelima AS di Bahrain menggunakan rudal dan drone sebagai tanggapan atas serangan di Pulau Qeshm.
Baku tembak terbaru ini dimulai ketika Komando Pusat AS (Centcom) menargetkan sebuah kapal tanker tanpa muatan, M/T Lexie berbendera Botswana, pada hari yang sama.
Centcom mengatakan pesawatnya menembakkan rudal untuk melumpuhkan mesin kapal tanker tersebut.
Kapal itu melintasi perairan internasional menuju Pulau Kharg, Iran, di utara Selat Hormuz dekat Kuwait, setelah awak kapal mengabaikan peringatan berulang kali selama 24 jam.
Tak lama kemudian, militer Kuwait mengatakan pertahanan udaranya mencegat serangan rudal dan drone.
Pemerintah juga mengimbau masyarakat untuk tidak mendekati atau menyentuh puing-puing, pecahan peluru, maupun benda tak dikenal yang mungkin berasal dari pencegatan target udara musuh.
Sirene peringatan juga berbunyi di Bahrain.
Baca juga: Iran Gempur Aset Militer AS di Kuwait-Bahrain, Penerbangan Lumpuh, Sejumlah Orang Terluka
Centcom mengatakan dua rudal Iran yang ditembakkan ke Kuwait gagal mencapai sasaran atau hancur di tengah jalan.
Sementara itu, tiga rudal yang menargetkan Bahrain berhasil dicegat oleh AS dan Bahrain.
Pasukan Amerika juga melakukan serangan terhadap stasiun kontrol darat militer Iran di Pulau Qeshm.
Pernyataan IRGC
Menurut Press TV, IRGC mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa serangan terhadap Kuwait dan Bahrain merupakan tanggapan atas penembakan rudal AS ke ruang mesin kapal tanker minyak Iran di dekat Selat Hormuz.
Dalam pernyataan tersebut disebutkan, "Larut malam kemarin, militer AS yang agresif menyerang sebuah kapal tanker minyak Iran dengan proyektil udara di sekitar Selat Hormuz, menyebabkan kerusakan pada ruang mesin kapal."
IRGC mengatakan insiden tersebut memicu respons dari angkatan lautnya.
"Sebagai tanggapan atas agresi dan pelanggaran peraturan yang mengatur Selat Hormuz, sebuah kapal musuh Amerika-Zionis bernama Panaya menjadi sasaran rudal yang diluncurkan oleh Angkatan Laut IRGC," kata IRGC.
IRGC menyatakan operasi pembalasan tersebut dilakukan sesuai dengan peringatan yang telah disampaikan sebelumnya.
"Kami sebelumnya telah memperingatkan bahwa setiap tindakan agresi akan dibalas dengan respons yang berbeda dan lebih berat, dan kami bertindak sesuai dengan peringatan tersebut. Respons ini harus menjadi pelajaran."
"Kami menegaskan kembali bahwa mengganggu keamanan Selat Hormuz akan membawa konsekuensi berat bagi militer AS yang agresif."
Tentang Pulau Qeshm
Mengutip Firstpost, Qeshm merupakan pulau terbesar di Teluk Persia dengan luas sekitar 1.491 kilometer persegi.
Pulau ini terletak sekitar 22 kilometer di selatan Bandar Abbas, salah satu kota pelabuhan terpenting di Iran.
Lokasinya menempatkan Qeshm di dekat salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia.
Pulau Qeshm membentang sejajar dengan garis pantai Iran dan menghadap jalur air yang terhubung ke Selat Hormuz, yang menjadi jalur utama pengiriman minyak dan gas alam cair dunia.
Penguasaan wilayah di kawasan ini memberikan pengaruh besar terhadap perdagangan maritim.
Qeshm telah berkembang menjadi pusat operasi utama bagi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), khususnya cabang angkatan laut dan kedirgantaraannya.
Pulau ini menampung fasilitas angkatan laut, infrastruktur drone, sistem komunikasi, dan pusat komando militer.
Posisinya juga memungkinkan pasukan Iran beroperasi dekat dengan jalur pelayaran internasional sambil tetap memperoleh dukungan dari fasilitas di daratan utama.
Iran telah mempertahankan blokade efektif di Selat Hormuz sejak 4 Maret 2026.
Pembatasan tersebut dilaporkan telah mengurangi aktivitas pelayaran melalui wilayah itu lebih dari 70 persen.
Pulau Qeshm telah menjadi pusat operasional yang mendukung upaya tersebut.
Karena lokasinya yang dekat dengan jalur air sempit yang memisahkan pulau itu dari daratan Iran, Teheran mampu mengendalikan pergerakan kapal di kawasan tersebut.
Para pejabat AS memandang serangan terhadap infrastruktur militer di Qeshm sebagai bagian dari upaya yang lebih luas untuk memulihkan kebebasan navigasi melalui salah satu koridor maritim terpenting secara ekonomi di dunia.
Pakar: Peluang Perdamaian Masih Tipis
Alan Eyre, mantan diplomat AS dan peneliti di Middle East Institute, mengatakan bahwa berakhirnya konflik antara AS dan Iran tidak serta-merta menghadirkan perdamaian di kawasan.
“Mereka [Iran] telah diserang dua kali. Mereka berpikir Israel berusaha menggulingkan rezim dan AS ingin melakukan hal yang sama. Jadi tidak akan ada perdamaian. Yang terbaik yang akan kita dapatkan adalah gencatan senjata yang diperpanjang,” kata Eyre kepada Al Jazeera.
"Iran akan tetap dalam keadaan siaga perang, akan membangun kembali militer dan persenjataan rudalnya, dan kemungkinan akan mencoba memperoleh senjata nuklir, yang tidak terjadi sebelum perang,” tambahnya.
Sebelum konflik, Iran dianggap sebagai "negara ambang nuklir" yang tidak secara aktif mengejar kepemilikan senjata nuklir, kata Eyre.
Namun, menurutnya, pendekatan garis keras AS telah mengubah perhitungan tersebut.
(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)
Baca tanpa iklan