Menurut Trump, "tidak ada pilihan lain, dengan saya Anda harus setuju."
Gencatan senjata pun berlaku dan para sandera mulai dipulangkan.
Namun, enam minggu kemudian, pada Maret 2025, Netanyahu secara sepihak mengakhiri kesepakatan tersebut dengan memerintahkan militer kembali ke Gaza dan melancarkan pemboman baru.
Pemerintahan Trump, yang secara terbuka mempertaruhkan kredibilitasnya pada kesepakatan itu, menyalahkan kelompok Hamas atas kegagalan gencatan senjata.
Oktober 2025
Masih mengutip TRT World, setelah berbulan-bulan kekerasan kembali menimpa warga sipil Gaza, Trump menengahi gencatan senjata kedua pada Oktober 2025.
Namun, untuk mencapainya diperlukan konfrontasi baru dengan Netanyahu.
Ketika Hamas memberikan sinyal terbuka untuk mencapai kesepakatan, Trump menelepon Netanyahu pada 4 Oktober.
Namun, Netanyahu mengatakan bahwa respons Hamas merupakan penolakan dan tidak berarti apa-apa.
Menurut seorang pejabat AS yang dikutip Axios, Trump membalas:
"Saya tidak mengerti mengapa Anda selalu begitu pesimis. Ini adalah kemenangan. Terimalah."
"Bibi, kau tidak bisa melawan dunia," kata Trump kepadanya, sebagaimana kemudian ia ceritakan kepada majalah TIME.
Setelah mendapat tekanan, Netanyahu akhirnya mengalah dan gencatan senjata kedua diumumkan.
Namun hingga akhir 2025, Israel belum bergerak menuju fase kedua, yaitu penarikan penuh dari Gaza sebagaimana dipersyaratkan dalam perjanjian tersebut.
Hamas kemudian menyatakan secara terbuka bahwa Israel harus memenuhi seluruh ketentuan fase pertama sebelum pembahasan mengenai perlucutan senjata dapat dimulai.
Netanyahu terus menunda implementasi kesepakatan, pasukannya tetap dikerahkan, dan fase kedua pun terhenti.
Baca tanpa iklan