News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Iran Vs Amerika Memanas

Operasi Nasr IRGC Kirim Sinyal Baru: Iran Kini Siap Hadapi Israel Secara Langsung

Penulis: Hasiolan Eko P Gultom
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

KENA RUDAL IRAN - Asap mengepul dari kompleks kilang minyak Haifa menyusul serangan serentak oleh Iran dan Hizbullah hari ini.

Operasi Nasr IRGC Kirim Sinyal Baru: Iran Kini Siap Hadapi Israel Secara Langsung

Ringkasan Berita:

  • Operasi Nasr disebut mencerminkan perubahan doktrin Iran, dari mengandalkan kelompok proksi menuju respons militer langsung terhadap serangan yang menyasar sekutunya.
  • Serangan balasan Iran ke pangkalan udara Israel dipandang sebagai pesan bahwa Lebanon dan Hezbollah merupakan bagian dari kepentingan strategis Teheran.
  • Perubahan strategi ini berpotensi mengubah keseimbangan politik dan keamanan Timur Tengah, sekaligus memengaruhi jalur diplomasi antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat.

 

TRIBUNNEWS.COM - Operasi militer yang diberi nama "Nasr" atau "kemenangan" yang diluncurkan Garda Revolusi Iran (IRGC) dinilai menjadi penanda penting perubahan strategi pertahanan dan kebijakan luar negeri Iran.

Sejumlah analis menilai langkah tersebut menunjukkan kalau Teheran kini tidak lagi hanya mengandalkan kelompok sekutu atau perang proksi, tetapi mulai bersedia melakukan konfrontasi langsung untuk melindungi kepentingan regionalnya.

Baca juga: IRGC Iran Luncurkan Operasi Nasr Serang Israel: Houthi Blokade Laut Merah, AS Minta Tel Aviv Sabar

Jika sebelumnya Iran lebih banyak bertindak melalui jaringan aliansi yang dikenal sebagai Axis of Resistance—yang mencakup Hizbullah di Lebanon, kelompok-kelompok bersenjata di Irak, Suriah, hingga Houthi di Yaman—maka Operasi Nasr dianggap sebagai sinyal kalau serangan terhadap sekutu dekat Iran dapat diperlakukan sebagai serangan terhadap negara itu sendiri.

Latar Belakang Operasi Nasr

Menurut berbagai laporan, Operasi Nasr diluncurkan sebagai respons atas serangan Israel terhadap kawasan Dahiyeh di Beirut, Lebanon, yang dikenal sebagai basis kuat Hizbullah.

Iran kemudian meluncurkan serangan rudal ke Pangkalan Udara Nevatim di Israel selatan dan Pangkalan Udara Tel Nof di dekat Tel Aviv.

Serangan tersebut disebut menggunakan sejumlah rudal balistik jarak menengah, termasuk Emad, Qadr-F, dan Kheibar Shekan.

Israel kemudian melakukan serangan balasan yang menyasar fasilitas petrokimia di Iran.

Setelah pertukaran serangan singkat itu, kedua pihak menghentikan operasi militer lebih lanjut.

Wakil Presiden Pertama Iran Mohammad Reza Aref menyatakan kalau tindakan tersebut berhasil memaksa Israel kembali menerima gencatan senjata.

Sementara itu, mantan Komandan Pertahanan Udara Israel, Tzvika Haimovich, mengakui bahwa serangan itu menunjukkan kemampuan militer Iran masih tetap signifikan.

BENDERA HIZBULLAH LEBANON - Foto ini diambil dari Telegram Hizbullah Lebanon pada Senin (17/3/2025), memperlihatkan bendera Partai Hizbullah dalam postingan yang mengatakan mereka tidak ada hubungannya dengan peristiwa penembakan tiga tentara Suriah di perbatasan Lebanon-Suriah. (Telegram Hizbullah Lebanon)
Pergeseran dari Perang Proksi

Selama bertahun-tahun, strategi keamanan Iran banyak bertumpu pada konsep perang tidak langsung melalui kelompok-kelompok sekutu di kawasan.

Pendekatan ini memungkinkan Teheran mempertahankan pengaruh regional tanpa harus terlibat dalam perang terbuka.

Namun, perkembangan terbaru menunjukkan adanya perubahan.

Sejumlah pejabat Iran menegaskan bahwa negara itu tidak lagi hanya mempertahankan wilayah kedaulatannya, tetapi juga melindungi kepentingan strategis yang berada di luar perbatasan nasional.

Dengan kata lain, keamanan Hizbullah di Lebanon kini dipandang sebagai bagian dari keamanan nasional Iran sendiri.

Pendekatan tersebut mencerminkan transformasi dari strategi defensif menuju strategi yang lebih aktif dan ofensif.

RUDAL IRAN - Peluncuran rudal balistik Qassem-Basir milik Iran. (PressTV) (tangkapan layar)
Pesan Politik di Balik Serangan

Operasi Nasr dipandang membawa beberapa pesan strategis.

Pertama, Iran ingin menegaskan bahwa Hizbullah memiliki posisi penting dalam arsitektur keamanan dan pengaruh regional Teheran. 

Kelompok tersebut bukan sekadar sekutu yang dapat dikorbankan dalam proses diplomasi.

Kedua, Iran ingin menunjukkan bahwa operasi militer Israel di Lebanon tidak dapat dipisahkan dari negosiasi yang sedang berlangsung antara Teheran dan Washington.

Menurut pandangan Iran, sulit membahas perdamaian jika sekutunya terus menjadi sasaran serangan.

Ketiga, serangan tersebut juga dimaksudkan untuk membantah anggapan bahwa kemampuan militer Iran telah melemah akibat konflik berkepanjangan dengan Israel dan tekanan dari Amerika Serikat.

Beberapa media Israel bahkan mengakui bahwa ancaman Iran terhadap serangan lanjutan bukan sekadar retorika politik.

Diplomasi dan Tekanan Militer Berjalan Bersamaan

Operasi Nasr juga memperlihatkan bahwa Iran mulai memadukan tekanan militer dengan strategi diplomasi.

Pernyataan sejumlah pejabat Iran menegaskan bahwa selama belum ada kemauan nyata untuk membangun kepercayaan, respons militer akan tetap menjadi salah satu pilihan.

Pendekatan ini dinilai sebagai upaya meningkatkan posisi tawar Teheran dalam negosiasi yang saat ini mengalami kebuntuan.

Sejak gencatan senjata diberlakukan, Iran berulang kali menuduh Amerika Serikat dan Israel melakukan pelanggaran. Di sisi lain, Israel menilai langkah-langkah yang diambilnya merupakan bagian dari kebutuhan menjaga keamanan nasional.

Perbedaan persepsi tersebut membuat jalur diplomasi berjalan di bawah bayang-bayang eskalasi militer.

Makna bagi Keseimbangan Kawasan

Perubahan strategi Iran berpotensi mengubah pola keamanan di Timur Tengah.

Selama ini, perang proksi menjadi ciri utama persaingan antara Iran dan Israel. Namun, jika kedua negara semakin sering melakukan serangan langsung, risiko terjadinya konflik regional berskala besar akan meningkat.

Bagi Israel, perkembangan ini berarti ancaman tidak lagi hanya datang dari kelompok bersenjata di negara tetangga, tetapi juga dari kemampuan militer Iran secara langsung.

Sementara bagi Amerika Serikat, perubahan tersebut dapat memperumit upaya menjaga stabilitas kawasan sekaligus melindungi kepentingan ekonomi dan keamanan sekutunya.

Konteks Geopolitik yang Lebih Luas

Sejumlah pengamat melihat perubahan kebijakan Iran sebagai bagian dari pergeseran menuju tatanan dunia yang lebih multipolar.

Dalam beberapa tahun terakhir, Teheran memperkuat hubungan strategis dengan Rusia dan China, baik di bidang ekonomi maupun keamanan. Kerja sama tersebut dipandang memberi ruang yang lebih besar bagi Iran untuk mengambil kebijakan luar negeri yang lebih independen.

Meski demikian, pandangan bahwa Iran akan menjadi salah satu pusat kekuatan baru dunia masih menjadi bahan perdebatan di kalangan analis internasional.

Perubahan Doktrin Rezim Baru Iran

Operasi Nasr tidak hanya merupakan aksi militer balasan, tetapi juga dapat dibaca sebagai deklarasi perubahan doktrin keamanan Iran.

Jika sebelumnya Teheran dikenal mengandalkan kesabaran strategis dan perang proksi, kini negara itu menunjukkan kesiapan untuk mengambil risiko yang lebih besar demi mempertahankan kepentingan regionalnya.

Perubahan tersebut berpotensi membentuk babak baru dalam rivalitas Iran dan Israel.

Di satu sisi, langkah itu dapat meningkatkan daya tawar Iran dalam diplomasi. Namun di sisi lain, strategi yang lebih ofensif juga meningkatkan kemungkinan terjadinya konfrontasi langsung yang lebih luas di Timur Tengah.

Pada akhirnya, Operasi Nasr memperlihatkan bahwa persaingan geopolitik di kawasan tidak lagi hanya ditentukan oleh negosiasi di meja diplomasi, tetapi juga oleh kemampuan masing-masing pihak menunjukkan kekuatan di lapangan.

 

 

(oln/wn/*berbagaisumber)


 

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini