TRIBUNNEWS.COM - El Niño, fenomena iklim alami yang dikenal sebagai penggerak cuaca yang sulit diprediksi, telah terbentuk di Samudra Pasifik yang mengalami peningkatan suhu.
Mengutip PBS, para ahli meteorologi mengumumkan pada Kamis bahwa fenomena ini diperkirakan dapat berkembang menjadi salah satu El Niño terkuat yang pernah tercatat.
Para ahli mengatakan El Niño, yaitu siklus pemanasan alami, dapat semakin meningkatkan suhu bumi yang sudah mengalami pemanasan akibat polusi bahan bakar fosil.
Fenomena ini juga diperkirakan akan memperkuat cuaca ekstrem di berbagai wilayah dunia.
Para meteorolog memperkirakan El Niño kali ini dapat menyamai atau bahkan melampaui El Niño besar yang terjadi pada 1997, yang menyebabkan kerugian hingga miliaran dolar akibat gelombang panas, banjir, kekeringan, tornado, dan kebakaran hutan.
Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA) secara resmi mengonfirmasi keberadaan El Niño tersebut. Fenomena ini terjadi ketika wilayah Samudra Pasifik di sekitar garis khatulistiwa mengalami pemanasan dan memengaruhi pola cuaca global.
NOAA menyebut ada kemungkinan 63 persen bahwa El Niño ini akan menjadi sangat kuat pada akhir musim gugur dan awal musim dingin, sehingga masuk dalam daftar peristiwa El Niño terbesar dalam catatan sejarah sejak 1950.
Baca juga: BMKG Ungkap Puncak Kemarau 2026 dan Ancaman El Nino hingga Awal 2027, Masyarakat Diminta Siaga
Menurut ilmuwan iklim dari Clark University, Abby Frazier, air laut hangat yang berada di kedalaman akan membawa “tambahan panas besar” ke permukaan laut, sehingga memperkuat berbagai kejadian cuaca ekstrem di banyak wilayah dunia.
Ia mengatakan, terutama di kawasan Pasifik, dampaknya dapat memburuk dengan cepat. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) António Guterres menyebut El Niño sebagai “peringatan iklim yang mendesak”.
“El Niño akan menambah bahan bakar pada kondisi dunia yang semakin panas,” kata Guterres dalam sebuah pesan video.
Dampak El Niño: Ada Wilayah yang Diuntungkan, Ada yang Terancam
Dampak El Niño berbeda-beda di setiap wilayah. Fenomena ini biasanya mengurangi, meski tidak sepenuhnya menghilangkan, aktivitas badai Atlantik, tetapi justru meningkatkan aktivitas badai di kawasan Pasifik.
Karena itu, wilayah pesisir timur dan Teluk Amerika Serikat mungkin mendapat sedikit keuntungan, sementara Hawaii dan beberapa pulau Pasifik menghadapi risiko lebih besar.
Para ilmuwan iklim mengatakan wilayah Timur Tengah yang sedang mengalami kekeringan bisa mendapatkan manfaat berupa peningkatan curah hujan. Namun, wilayah lain justru menghadapi ancaman lebih besar.
Beberapa wilayah Amerika Selatan bagian barat, tempat El Niño pertama kali dikenali puluhan tahun lalu, sering mengalami hujan deras dan banjir akibat fenomena ini. India diperkirakan menghadapi gelombang panas yang lebih intens, sedangkan Australia berisiko mengalami kekeringan, kebakaran hutan, dan suhu ekstrem.
Baca tanpa iklan