TRIBUNNEWS.COM - Israel disebut tengah menghadapi gelombang boikot dan sanksi internasional terbesar dalam sejarah modernnya.
Harian Israel, Yedioth Ahronoth, melaporkan bahwa tekanan global terhadap pemerintah Israel kini semakin meluas, mulai dari pembatasan terhadap pejabat tinggi negara hingga kampanye boikot ekonomi, budaya, dan diplomatik.
Dalam laporannya yang berjudul “Bagaimana Israel Menjadi Negara yang Paling Banyak Diboikot di Dunia”, surat kabar tersebut menyebut Israel kini menghadapi “tsunami sanksi internasional” yang menargetkan pejabat pemerintah, kelompok pemukim Yahudi, serta berbagai lembaga resmi negara.
Gelombang tekanan itu disebut semakin meningkat sejak pecahnya perang Gaza pada Oktober 2023 dan memicu memburuknya citra Israel di mata dunia internasional.
Salah satu perkembangan terbaru datang dari Prancis yang melarang Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich, memasuki wilayahnya.
Sebelumnya, langkah serupa juga diberlakukan terhadap Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir.
Menurut laporan tersebut, keputusan Prancis diambil sebagai respons atas dukungan kedua menteri terhadap perluasan pemukiman Yahudi di Tepi Barat dan kebijakan aneksasi wilayah Palestina yang diduduki.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sendiri menganggap Tepi Barat dan Yerusalem Timur sebagai wilayah Palestina yang diduduki Israel.
Karena itu, upaya aneksasi dianggap dapat menghapus peluang terbentuknya negara Palestina merdeka.
Selain Prancis, sejumlah negara Barat lain seperti Inggris, Kanada, Australia, Selandia Baru, Norwegia, dan Irlandia juga disebut mulai memberlakukan pembatasan terhadap pejabat Israel maupun kelompok pemukim ekstremis.
Baca juga: Iran Bantah Kesepakatan Sudah Dekat: Pendirian AS Berubah-ubah
Gerakan Boikot Israel Semakin Kuat
Harian Yedioth Ahronoth mengakui bahwa sebelum 7 Oktober 2023, pemerintah Israel masih mampu membatasi dampak gerakan Boycott, Divestment, and Sanctions (BDS).
Saat itu, boikot ekonomi dan budaya dinilai belum memberikan dampak besar terhadap perekonomian Israel.
Namun kondisi tersebut kini berubah drastis. Gerakan boikot disebut semakin memperoleh dukungan luas di berbagai negara dan mulai memengaruhi reputasi internasional Israel.
Laporan itu menyebut sejumlah seniman internasional menolak tampil di Israel, sementara beberapa penulis juga menolak karya mereka diterjemahkan ke dalam bahasa Ibrani.
Kampanye untuk mengeluarkan Israel dari berbagai ajang internasional seperti Eurovision hingga kompetisi FIFA juga semakin gencar dilakukan.
Baca tanpa iklan