Dalam konteks masyarakat Indonesia, kesadaran ini penting.
Lebih lanjut dr. Santi menekankan bahwa susu bukan satu-satunya sumber nutrisi penting.
“Protein, kalsium, dan vitamin bisa kita peroleh dari berbagai sumber. Misalnya dari ikan teri, tempe, tahu, sayuran hijau, hingga kacang-kacangan,” katanya.
Kuncinya adalah pola makan seimbang, bukan satu makanan ajaib.
Kini, banyak alternatif susu nabati yang bisa menjadi pilihan, susu kedelai, almond, oat, atau beras.
Masing-masing punya kandungan dan rasa khas.
Tapi penting diingat, tidak semua susu nabati memiliki nilai gizi setara dengan susu sapi.
Sebagian bahkan rendah protein dan kalsium, sehingga tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan individu.
Untuk orang dengan intoleransi laktosa ringan, konsumsi susu sapi dalam porsi kecil atau bersama makanan lain kadang masih bisa ditoleransi.
Beberapa produk susu fermentasi seperti yogurt dan kefir juga bisa lebih mudah dicerna karena proses fermentasi sudah menguraikan sebagian laktosa.
Namun bagi penderita alergi, produk-produk ini tetap harus dihindari sepenuhnya.
Yang terpenting, kata dr. Santi, jangan menebak-nebak sendiri.
“Kalau ragu apakah alergi atau intoleransi, sebaiknya periksa ke dokter. Tes kulit atau tes darah bisa membantu memastikan penyebabnya,” ujarnya.
Kebiasaan menebak sendiri sering membuat masalah makin panjang.
Banyak orang yang tiba-tiba menghapus semua produk susu dari dietnya tanpa pengganti yang memadai, lalu malah kekurangan zat gizi penting.
Baca tanpa iklan