Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi
Ringkasan Berita:
- Dapur sebagai sumber pengolahan makanan perlu diwaspadai.
- Kanker hati bisa dipicu dari dapur.
- Mulai waspada jika ada makanan atau bahan pengolah masakan mulai ditumbuhi jamur.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Dapur sebagai sumber pengolahan makanan perlu diwaspadai. Sebelum memasak, perhatikan bahan makanan di sana, karena bisa jadi sumber jamur yang picu kanker hati.
Banyak orang mengira bahwa jamur pada makanan hanyalah masalah kecil.
Baca juga: Jaga Berat Badan Ideal Tak Sekadar Penampilan, Tapi Bisa Cegah Risiko Kanker Hati
Roti yang sedikit berjamur sering kali hanya dipotong bagian rusaknya, lalu sisanya tetap dimakan.
Namun kebiasaan sederhana ini ternyata bisa berakibat fatal.
Jamur pada makanan bukan sekadar tanda basi, tetapi bisa menjadi sumber racun berbahaya yang memicu kanker hati.
Hal ini dijelaskan oleh Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Hematologi Onkologi Medik dari Siloam Hospitals Kebon Jeruk, Dr. Jeffry Beta Tenggara, Sp.PD-KHOM.
Ia menegaskan bahwa tidak semua jamur aman dikonsumsi, karena sebagian jamur menghasilkan zat beracun bernama aflatoksin, zat yang terbukti bersifat karsinogenik atau pemicu kanker.
“Jadi memang tadi benar (karsinogenik), jamur dari makanan,” kata dr. Jeffry pada sesi edukasi media bertajuk: ”Kenali dan Pahami: Kanker Hati Tipe Hepatocellular Carcinoma (HCC)”, yang diadakan oleh AstraZeneca di Jakarta Barat, Kamis (24/10/2025).
Jamur di Makanan, Sumber Racun yang Tak Terlihat
Menurut dr. Jeffry, jamur yang tumbuh di makanan lembap seperti roti, kacang, atau biji-bijian yang disimpan terlalu lama bisa menghasilkan aflatoksin.
Zat ini dihasilkan oleh jamur jenis Aspergillus flavus dan Aspergillus parasiticus, yang tumbuh baik di suhu dan kelembapan tropis, seperti di Indonesia.
Aflatoksin yang masuk ke tubuh dapat merusak sel-sel hati dan mengganggu metabolisme.
Dalam jangka panjang, kerusakan ini bisa berkembang menjadi kanker hati primer (hepatoselular karsinoma), salah satu jenis kanker dengan angka kematian tertinggi di Asia Tenggara.
Karena itu, dr. Jeffry mengingatkan agar masyarakat tidak menyepelekan makanan yang sudah berjamur, meskipun hanya sedikit.
Baca tanpa iklan