News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Program Makan Bergizi Gratis

Dapur Sekolah vs Dapur Terpusat, Mana yang Lebih Aman untuk MBG? Ini Kata Pakar

Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Anita K Wardhani
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

MENU MBG - Potret menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di SDN 016 Sagulung Batam, Jumat (26/9/2025) yang buat sejumlah siswa kelas siang dilarikan ke rumah sakit. Menu spageti diduga jadi penyebab keracunan MBG di Banyumas dan Batam, belasan ssiwa SD alami keracunan.

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan setelah muncul berbagai pertanyaan soal keamanan dapurnya. 

Masyarakat pun bertanya-tanya, mana yang lebih baik. Dapur sekolah (school kitchen) atau dapur terpusat (central kitchen)?

Baca juga: BGN Tetapkan Batas Produksi Harian MBG di SPPG: Maksimal 3 Ribu Porsi

Ahli epidemiologi dan peneliti keamanan kesehatan global dari Griffith University Australia, Dr. Dicky Budiman, menegaskan bahwa tidak ada model tunggal yang bisa dianggap paling aman.

“Kalau bicara versus ini ya, school kitchen dan central kitchen ya, sebenarnya tidak ada jawaban tunggal, keduanya punya trade off,” ujar Dicky kepada Tribunnews.com, Rabu (29/10/2025). 

Menurut Dicky, dapur sekolah memiliki keunggulan dari segi kesegaran makanan. 

Baca juga: Penyebab Gaji Relawan Dapur MBG di Takalar Dipotong dan Upah Lembur Tak Dibayar, Protes ke SPPG

Proses masak dan penyajian lebih singkat karena dilakukan langsung di lokasi, sehingga kualitas makanan bisa lebih terjaga.

Selain itu, dapur sekolah juga membuka ruang bagi guru dan komunitas untuk terlibat dalam pendidikan gizi kepada anak-anak.

DAPUR SPPG — Sejumlah petugas menyiapkan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di salah satu dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau Dapur MBG, Jakarta, belum lama ini. Meski mendapat dukungan Menteri Keuangan, program ini dinilai belum bisa berjalan maksimal karena anggaran masih tertahan. (Tribunnews.com/Ist)

Namun, model ini bukan tanpa kelemahan. Dicky menyebut, setiap sekolah memerlukan investasi infrastruktur besar serta tenaga terlatih yang memahami prinsip kebersihan pangan.

“Variabilitas mutu tinggi tanpa pengawasan yang kuat. Jadi harus ada pengawasan yang sangat kuat,” jelasnya.

Berbeda dengan itu, dapur terpusat menawarkan efisiensi tinggi dan kemudahan pengawasan. 

Proses standarisasi, audit, hingga sertifikasi dapat dilakukan secara lebih terintegrasi.

Namun, risiko justru meningkat ketika makanan harus dikirim ke berbagai lokasi.

“Risiko selama transportasi dan pengendalian suhu ini tantangan utama, selain potensi dampak besar kalau terjadi kegagalan,” kata Dicky.

Jika terjadi keracunan di dapur terpusat, korban bisa jauh lebih banyak karena distribusi yang luas. 

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini