Polusi udara, polusi suara, kepadatan, dan minimnya ruang hijau memperkuat beban psikologis. Hal ini meningkatkan stres lingkungan yang berpengaruh pada kesehatan mental.
5. Peristiwa hidup atau trauma pribadi
Perceraian, masalah keluarga, bencana, dan pengalaman traumatis lain dapat memperbesar risiko depresi.
6. Stigma dan keterbatasan akses layanan
Banyak orang enggan mencari bantuan karena takut dicap. Layanan kesehatan mental di puskesmas juga belum merata.
7. Penyalahgunaan alkohol atau zat adiktif
Penggunaan alkohol, narkotika, dan zat lainnya dapat memperburuk kondisi depresi yang sudah ada.
Konteks Global: Kota Besar Memang Lebih Rawan
Dicky memaparkan, prevalensi depresi di kota besar dunia seperti Tokyo, Seoul, Shanghai, Singapura, hingga kota-kota Eropa dan Australia, umumnya jauh lebih tinggi, terutama jika menggunakan instrumen screening yang sensitif.
“Banyak kota besar itu menunjukkan angka depresi dan kecemasan yang jauh lebih tinggi kalau diukur dengan instrumen screening yang sensitif ya,” kata Dicky.
Karena itu, angka rendah di Jakarta tidak boleh dianggap sebagai tanda bahwa warganya lebih sehat secara mental daripada populasi kota besar lain.
Bisa jadi, pendataan yang belum optimal dan stigma sosial membuat banyak kasus tidak tercatat.
Dicky menekankan perlunya transparansi metodologi survei, perluasan deteksi dini di puskesmas, peningkatan jumlah tenaga profesional, serta penguatan layanan berbasis komunitas.
Selain itu, faktor sosial seperti jam kerja, ruang hijau, dan beban ekonomi juga harus diintervensi agar tidak terus menjadi pemicu stres warga.
Masalah depresi bukan hanya soal individu, tetapi gambaran utuh dari ekosistem kota. Pemulihannya memerlukan pendekatan menyeluruh yang menyentuh sisi kesehatan, sosial, ekonomi, hingga lingkungan.
Baca tanpa iklan