News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Libur Akhir Tahun Rawan Campak, Ini Risiko Komplikasi Serius pada Anak yang Belum Divaksin

Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Anita K Wardhani
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Bidan Desa Yudha Purwanidyah memberikan vitamin saat imunisasi di Posyandu Balai Desa Ngadilangkung, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, Kamis (2/2/2023). Imunisasi tersebut dilakukan sebagai antisipasi untuk meminimalisir anak dari dampak terpapar campak. Pemerintah Kabupaten Malang melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang mengimbau para orang tua untuk segera membawa putra-putrinya melakukan imunisasi terutama untuk imunisasi campak. Baik melalui posyandu, puskesmas atau bisa dilakukan di sekolah dasar (SD) secara gratis. SURYA/PURWANTO

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

Ringkasan Berita:

  • Saat liburan, ada ancaman kesehatan yang kerap luput dari perhatian orang tua, yakni penularan campak pada anak.
  • Campak bukan sekadar penyakit ruam yang bisa sembuh dengan sendirinya. 
  • Pada anak, terutama bayi dan balita dengan sistem imun yang belum matang, campak dapat berkembang serius.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA –Libur akhir tahun identik dengan momen berkumpul bersama keluarga, bepergian, dan meningkatnya mobilitas masyarakat. 

Baca juga: 10 Provinsi dengan Tingkat Imunisasi Campak pada Balita Terendah di Tahun 2025

Namun di balik suasana hangat tersebut, ada ancaman kesehatan yang kerap luput dari perhatian orang tua, yakni penularan campak pada anak.

Campak bukan sekadar penyakit ruam yang bisa sembuh dengan sendirinya. 

Pada anak, terutama bayi dan balita dengan sistem imun yang belum matang, campak dapat berkembang menjadi kondisi serius yang mengancam nyawa bila tidak dicegah sejak awal. 

Karena itu, vaksinasi menjadi kunci utama perlindungan anak dari komplikasi campak.

 

Kasus Campak Masih Tinggi, Anak Jadi Kelompok Paling Rentan

Tren peningkatan kasus campak di Indonesia masih menjadi perhatian. Data Kementerian Kesehatan RI mencatat lebih dari 3.500 kasus campak sepanjang 2024. 

Hingga Agustus 2025, jumlahnya kembali menembus lebih dari 3.400 kasus dengan 46 Kejadian Luar Biasa (KLB) campak di sejumlah wilayah.

Baca juga: Campak Bangkit Lagi Setelah Pandemi, 11 Juta Kasus dan 95 Ribu Kematian

Situasi ini diperparah dengan tingginya mobilitas masyarakat saat liburan, yang membuka peluang penularan virus secara masif, terutama di ruang tertutup dan tempat umum.

Campak atau measles merupakan penyakit infeksi virus yang menular melalui saluran pernapasan. 

Penularannya terjadi lewat percikan droplet saat batuk, bersin, berbicara, hingga sentuhan benda yang terkontaminasi. 

Daya tularnya sangat tinggi, bahkan seseorang bisa menularkan virus ini sejak empat hari sebelum hingga empat hari setelah gejala muncul.

Virus campak juga mampu bertahan di udara hingga dua jam, terutama di ruangan dengan ventilasi buruk. 

Halaman
123
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini