TRIBUNNEWS.COM - Kabupaten Gresik melaksanakan Program Pemantauan Gizi Anak Stunting (PEGAS) di 18 Puskesmas sebagai upaya menekan angka stunting pada balita.
Program yang berjalan selama tiga bulan dari Agustus - Desember 2025 ini, menekankan skrining awal di Puskesmas, intervensi gizi, serta pemantauan rutin setiap dua minggu dengan pendampingan medis melalui telemedicine oleh Dokter Spesialis Anak (DSA).
Merujuk Kementerian Kesehatan (Kemenkes), stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Stunting dapat terjadi mulai janin masih dalam kandungan dan baru nampak saat anak berusia dua tahun.
Dalam evaluasi program PEGAS, berdasarkan data evaluasi Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik, ada penurunan angka stunting sebesar 26,79 persen.
Baca juga: Posyandu di Sukoharjo Catat Penurunan Stunting, Edukasi Gizi Terus Diperkuat
Selain itu, 64,28 persen balita peserta menunjukkan perbaikan status gizi meski belum sepenuhnya keluar dari kondisi stunting.
Sedangkan 8,93 persen balita masih menjalani pendampingan lanjutan oleh Dokter Spesialis Anak (DSA).
Program ini berjalan dari periode Agustus hingga Desember 2025 dengan sasaran balita usia 0–57 bulan yang mengalami stunting tanpa kelainan bawaan maupun infeksi kronis, seperti tuberkulosis, serta telah melalui proses skrining di Puskesmas.
Dari total 60 balita yang terdaftar, sebanyak 56 balita mengikuti seluruh rangkaian intervensi hingga akhir.
Intervensi utama dalam program ini berupa pemberian Pangan untuk Keperluan Medis Khusus (PKMK) yang sesuai regulasi.
Kemudian, pemantauan dilakukan secara rutin setiap dua minggu dengan dukungan pendampingan klinis melalui telemedicine oleh tim DSA.
Pendampingan ini dimaksudkan untuk menyesuaikan intervensi gizi serta memperkuat edukasi kepada orang tua.
Salah satu anggota tim DSA, dr. Wiweka Merbawani menekankan pentingnya penguatan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) kepada ibu hamil dan orang tua sebagai fondasi pencegahan stunting sejak dini.
“Penguatan ini penting, tidak hanya sebagai upaya pencegahan, tetapi juga untuk mendukung identifikasi dan penanganan stunting sejak dini,” ujarnya ditulis Rabu (28/1).
Ke depan, program seperti ini diharapkan dapat berlanjut agar manfaat bisa dirasakan lebih luas.
Baca tanpa iklan