Selain itu, data program menunjukkan, 91,07 persen balita peserta dengan masalah gizi kurang dan stunting mengalami perbaikan status gizi.
Stunting merupakan permasalahan multidimensional yang kompleks termasuk pola makan keluarga, pola asuh, imunisasi, serta kondisi kesehatan dan lingkungan.
Oleh karena itu, penanganan di Gresik tidak hanya berfokus pada pemenuhan gizi, tetapi juga mencakup penanganan medis dan edukasi keluarga tentang penerapan gaya hidup sehat.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik, dr. Anik Luthfiyah, M.Ked., mengatakan, data capaian program dapat menjadi dasar perencanaan kebijakan ke depan, termasuk strategi pencegahan melalui skrining dini dan kebutuhan suplemen gizi.
Menurut dr. Anik, pada 2026 penanganan stunting di Gresik akan lebih diarahkan pada pencegahan, khususnya skrining dini dan intervensi berbasis layanan dasar.
Momentum ini juga relevan dengan Hari Gizi Nasional yang baru saja diperingati setiap 25 Januari, sebagai pengingat pentingnya pemenuhan gizi seimbang sejak dini.
Ia berharap model penanganan ini dapat diadopsi di wilayah lain sebagai bagian dari upaya menurunkan angka stunting di Indonesia.
“Harapannya model pendekatan ini dapat diadopsi di wilayah lain sebagai bagian dari upaya kolektif menurunkan angka stunting di Indonesia,” harap dr Anik.
Baca tanpa iklan