Ayat ini menegaskan bahwa sikap membangkang kaum terdahulu kembali terulang pada masa Nabi Muhammad saw. Permintaan mukjizat yang berlebihan lahir dari kedurhakaan, bukan keimanan.
Petir yang menyambar mereka menjadi bentuk hukuman atas kezaliman dan kesombongan, meski setelah itu Allah tetap membuka pintu ampunan.
7. QS. Fuṣṣilat: 13
“Jika mereka berpaling, katakanlah, “Aku telah memperingatkan kamu (azab berupa) petir seperti petir yang menimpa (kaum) 'Ad dan (kaum) Samud." (QS. Fuṣṣilat: 13)
Ayat ini adalah peringatan keras kepada kaum musyrik yang menolak dakwah Rasulullah saw. Petir disebut sebagai simbol azab yang pernah menimpa umat terdahulu.
Hal ini menunjukkan bahwa penolakan terhadap kebenaran memiliki konsekuensi serius, sebagaimana yang dialami kaum ‘Ad dan Tsamud.
8. QS. Fuṣṣilat: 17
“Adapun (kaum) Samud, mereka telah Kami beri petunjuk, tetapi mereka lebih menyukai kebutaan (kesesatan) daripada petunjuk itu. Maka, mereka disambar petir sebagai azab yang menghinakan karena apa yang telah mereka kerjakan." (QS. Fuṣṣilat: 17)
Ayat ini menjelaskan bahwa petir menjadi hukuman bagi kaum Tsamud karena mereka dengan sadar menolak petunjuk Allah.
Azab tersebut bersifat menghinakan, sebagai balasan atas kesombongan dan pembangkangan mereka terhadap perintah Tuhan.
9. QS. AzZāriyāt: 44
“Lalu, mereka bersikap angkuh terhadap perintah Tuhannya. Maka, mereka disambar petir sementara mereka menyaksikan(-nya)”. (QS. AzZāriyāt: 44)
Ayat ini kembali menegaskan bahwa kesombongan terhadap perintah Allah berujung pada kebinasaan. Petir datang secara tiba-tiba dan disaksikan langsung oleh kaum yang durhaka.
Ayat tersebut menjadi pelajaran bahwa azab Allah bisa datang tanpa diduga, ketika manusia merasa paling kuat dan aman.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)
Baca tanpa iklan