Namun sepeninggal para pemimpin tersebut, Bani Israil sering tidak taat kepada nabi-nabi mereka, bahkan kerap berselisih dan tidak bersatu, sehingga kondisi mereka semakin lemah.
Pada masa Nabi Samuel (Syam’un), keadaan Bani Israil semakin terpuruk karena terdesak oleh Raja Jalut yang zalim dan kuat.
Menyadari kelemahan mereka, para pemuka Bani Israil meminta seorang pemimpin untuk menyatukan mereka dalam peperangan.
Meski awalnya ragu karena sifat mereka yang sering membangkang, Nabi Samuel akhirnya menunjuk Thalut sebagai raja yang akan memimpin mereka melawan Jalut.
Pemilihan Thalut sempat ditolak karena ia bukan dari kalangan terpandang. Namun atas petunjuk Allah, Thalut tetap diangkat menjadi pemimpin.
Dalam perjalanannya menuju medan perang, Thalut menguji pasukannya agar tidak minum air sungai secara berlebihan.
Banyak yang gagal dalam ujian tersebut, sehingga hanya sedikit pasukan yang tersisa untuk melanjutkan perjuangan.
Di antara pasukan itu terdapat Nabi Daud AS, seorang pemuda saleh dan pemberani.
Ketika berhadapan dengan pasukan Jalut yang besar, mereka berdoa memohon kekuatan dan kesabaran kepada Allah.
Dengan izin Allah, pasukan kecil ini akhirnya menang, dan Nabi Daud berhasil mengalahkan Jalut.
Setelah kemenangan itu, Nabi Daud AS diangkat oleh Allah menjadi nabi dan raja.
Ia dikenal sebagai pemimpin yang bijaksana, berilmu, dan kuat imannya.
Kisah ini mengajarkan bahwa kemenangan tidak ditentukan oleh jumlah atau kekuatan semata, tetapi oleh keimanan, kesabaran, dan pertolongan Allah.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)
Baca tanpa iklan