Ia menggambarkan, pujian sederhana dari ayah sebenarnya memiliki dampak psikologis besar bagi anak.
“Kalau ayahnya tiap hari bisa puji kan gratis gitu,” katanya.
Namun dalam banyak keluarga, ayah hanya fokus mencari nafkah dan merasa tugasnya selesai di sana.
“Ada juga bapak-bapak ngomong gini, kan saya sibuk kerja, sibuk cari duit untuk anak,” ujar Intan.
Padahal menurutnya, anak tidak hanya membutuhkan uang, tetapi juga kedekatan emosional.
Intan menilai, perhatian kecil dari ayah bisa menjadi benteng penting agar anak tidak mudah terjebak rayuan predator seksual.
“Cantiknya anak ayahnya itu kalau masih kecil sampai tumbuh dewasa yang keluar dari mulut ayahnya itu akan lebih bermakna daripada nanti ketika udah dewasa yang ngucapin orang lain,” ujarnya.
Ia bahkan menggambarkan bagaimana anak yang haus perhatian bisa mudah percaya pada laki-laki asing yang memberi pujian.
“Tiba-tiba wah anak aku cantik ya, mau deh sama dia. Siapa aja yang bilang cantik aku nurut sama dia,” katanya.
Tak hanya itu, Intan juga mengungkap dampak panjang bila korban kekerasan seksual tidak mendapatkan pendampingan psikologis yang tuntas.
Menurutnya, ada korban yang kemudian berubah menjadi pelaku di kemudian hari.
“Di penyembuhan psikologisnya tidak selesai nih, terapi psikologisnya tidak selesai, akhirnya ternyata sekarang dia jadi pelaku,” ujarnya.
Kasus seperti itu bahkan ditemukan dalam pendampingan Yayasan KAKAK.
“Itu ada di dua sampai tiga kasus,” kata Intan.
Selain menjadi pelaku, korban yang tidak pulih dengan baik juga berisiko mengalami berbagai persoalan lain.
Baca tanpa iklan