Menurut berbagai kalangan, Indonesia sedang memainkan peran bridge-builder atau pembangun jembatan. Langkah Presiden Prabowo mendatangi kutub kekuatan yang saling berseteru, perwujudan dari "diplomasi resiliensi".
Di tengah dunia yang kian proteksionis, Indonesia membuka diri secara selektif guna memperkokoh ketahanan ekonomi nasional.
Kolaborasi baru secara pragmatis harus didorong di tengah multilateralisme kian melemah melalui kerja sama regional lintas sektor.
Kunjungan Presiden ke berbagai negara, bentuk kolaborasi pragmatis untuk memastikan Indonesia tetap memiliki akses pasar dan teknologi, meski dunia sedang dalam ancaman krisis akibat inflasi dan beban utang.
Terkait pergeseran peta kekuatan ekonomi ini, Christine Lagarde, Presiden Bank Sentral Eropa (ECB), memberikan perspektif relevan. Lagarde menekankan, era stabilitas harga dan perdagangan tanpa batas telah berakhir.
Ia berpendapat:
"Kita sedang memasuki era fragmentasi ekonomi global di mana perdagangan tidak lagi didikte oleh efisiensi, tetapi oleh keamanan nasional dan nilai-nilai politik. Negara-negara yang mampu beradaptasi dengan aliansi yang fleksibel dan memperkuat ketahanan domestik adalah mereka yang selamat dari guncangan inflasi global."
Pernyataan Lagarde memvalidasi mengapa presiden Prabowo harus sangat pragmatis. Diplomasi ekonomi kini bukan sekadar mencari harga termurah atau investasi terbesar, melainkan mencari mitra paling menjamin keamanan pasokan dan stabilitas jangka panjang.
Risiko Paling Mahal
Laporan risiko 2026 mencatat kekhawatiran bahwa isu lingkungan cenderung terpinggirkan. Sementara energi dan sumber daya tergerus oleh ongkos perang dan resesi.
Padahal, dalam 10 tahun kedepan, perubahan iklim dan cuaca ekstrem tetap menjadi risiko paling menakutkan bagi kemanusiaan.
Indonesia, sebagai negara kepulauan, berada di garis depan risiko mengkhawatirkan itu. Diplomasi luar negeri tidak boleh hanya bicara soal perdagangan dan investasi, tetapi juga soal pendanaan transisi energi yang adil.
Setiap negara tidak boleh mengabaikan risiko lingkungan demi pertumbuhan instan, sebab itu sama artinya dengan menabung bencana bagi generasi mendatang.
Perhatian serius ini terungkap dari pernyataan presiden melalui Rapat Terbatas disela - sela kunjungannya ke inggris, membahas tentang penertiban kawasan hutan, langsung dari London.
Fase Adaptasi
Sekali lagi, dunia tidak sedang menuju stabilitas, melainkan memasuki fase "adaptasi keras". Aktor yang mampu membaca risiko lebih awal adalah mereka yang akan mendapatkan efisiensi dan kesiapan krisis untuk bertahan.
Langkah Prabowo di panggung internasional adalah upaya Indonesia untuk "hadir" sebelum badai krisis benar-benar memuncak. Meski demikian, pekerjaan rumah di dalam negeri jauh lebih besar.
Dibutuhkan kebersamaan dan gotong-royong menciptakan resiliensi nasional untuk ekonomi yang tangguh. Masyarakat tidak boleh terpolarisasi dalam provokasi memecah belah dan melemahkan, di tengah serangan algoritma global.
Kita tidak bisa lagi bersantai. Seperti pesan dalam laporan global tersebut: dunia sedang bergejolak, dan hanya mereka yang bertindak strategis yang akan tetap berdiri tegak.
Indonesia telah memulai langkah mengantisipasi itu di percaturan global. Kini, tinggal bagaimana mengeksekusinya dengan disiplin di lapangan sendiri.
Baca juga: Pesan Diplomasi antara Jakarta - London dan Davos
Baca tanpa iklan