TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketika menggunakan konsultan politik dan keuangan menjadi keharusan, tidak dengan demikian Dwi Rio Sambodo. Calon anggota legislatif asal PDI Perjuangan untuk Provinsi DKI Jakarta ini mengaku tak menggunakan hal tersebut.
"Jujur saja, saya anggap bagus ada konsultan politik dan keuangan. Tapi belum pernah saya mengalaminya," ungkap Dwio saat membedah buku 'Mau "Berkuasa"??? Nggak Punya Duit...No Way!' karya Deni Lesmana di Jakarta, Rabu (2/4/2014).
Dwi yang juga caleg petahanan kala terpilih pada Pemilu 2009 silam, membuat teman-temannya bertanya. Bahkan tak sedikit dari mereka menanyakan ongkos politik yang dikeluarkan untuk survei dan segala rupanya.
Ia tak menampik, dalam buku karya Dani tersebut, seorang caleg memang perlu menggunakan metodologi secara detil dan rasional untuk meraih kekuasaan. Lewat karyanya, Dani memberi resep, seorang caleg untuk maju harus matang secara perhitungan politik maupun keuangan.
"Saya setuju dengan tujuan kalau mau ke politik praktis harus jelas sumber keuangan, sumber sosial dan subjeknya. Bagi saya pertama ide dan gagasan atau cita-cita perjuangan. Mau ditempatkan di mana kekuasaan itu, dan apa motivasinya," ungkap Dwi.
Mantan aktivis ini menambahkan, cita-cita perjuangan menjadi pondasi utama ketika orang terjun dalam politik. Dwi menyebutnya sebagai tenaga penggerak untuk menjangkau sumber daya lainnya, yakni jaringan dan modal finansial.
Berdasar pengalamannya, ketika cita-cita terjun ke politik jelas, konsekuensinya jaringan akan terbangun, dan mereka yang antusias akan memberikan bantuan tak terkecuali modal finansial.