News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Panglima yang Pimpin Perang dalam Kondisi Sakit, dan Tak Pernah Absen Shalat

AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Mayor Purn Abu Arifin, ajudan II Jenderal Soedirman, di kediamannya di Kecamatan Padamara, Purbalingga, Jumat (6/10/2017).

TRIBUNNEWS.COM, PURBALINGGA - Minggu, 19 Desember 1948, Agresi Militer Belanda II membuat Kota Yogyakarta yang semula tenang berubah tegang.

Suara berondongan tembakan dari pesawat cocor merah atau Mustang P-51 membuat warga panik.

Pasukan Belanda bergerak memasuki jantung kota dari lapangan udara Maguwo.

Baca: Bocah SD Disuruh Anak Punk Beli Rokok Pakai Uang Palsu

Sebuah pabrik peniti di Lempuyangan yang dikira markas tentara hancur dibom.

Jenderal Soedirman saat itu terbaring sakit akibat tuberculosis di kamar rumah dinas, Jalan Bintaran Timur 8.

Mendengar rentetan tembakan dan suara pesawat, Panglima Besar TNI ini seketika bangkit dengan wajah merah.

Sang istri, Alfiah, juga dokter pribadi Mayor Suwondo, sigap menahan tubuh ringkih Soedirman yang sempoyongan karena memaksa berdiri.

"Panglima marah saat tahu pasukan Belanda menyerang kota. Belanda telah berkhianat," ungkap Mayor Purnawirawan Abu Arifin di kediamannya, Kecamatan Padamara, Purbalingga, Jumat (6/10/2017).

Abu Arifin yang sekarang berusia 97 tahun merupakan Ajudan II Jenderal Soedirman saat Belanda melancarkan Agresi Militer Kedua.

Agresi militer itu mengkhianati gencatan senjata Renville.

Dia terkenang, Soedirman tak menggubris nasihat dokter yang memintanya tenang agar kesehatan terjaga.

Panglima Besar sudah bersumpah, selama darah masih mengalir tak ada alasan untuk tidak melawan penjajah.

Namun, Soedirman tak mau gegabah bertindak tanpa arahan atasannya, Presiden Soekarno, meski semangatnya membuncah.

Halaman
1234
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda

Berita Populer

Berita Terkini