News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Panglima yang Pimpin Perang dalam Kondisi Sakit, dan Tak Pernah Absen Shalat

AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Mayor Purn Abu Arifin, ajudan II Jenderal Soedirman, di kediamannya di Kecamatan Padamara, Purbalingga, Jumat (6/10/2017).

Jenderal Soedirman akhirnya memutuskan menyingkir dari Yogyakarta dan menerapkan taktik perang gerilya.

Dengan keterbatasan senjata yang dimiliki, gerilya adalah strategi perang yang cukup efektif.

Mereka bisa sembunyi di hutan sambil menunggu kesempatan menyerang musuh secara tiba-tiba.

Lalu kembali lagi ke hutan menyusun serangan berikutnya.

Soedirman yang dikawal segelintir prajurit menumpang mobil sedan keluar Yogyakarta.

Jalur selatan melalui pantai dipilihnya untuk mengawali perjalanan perang.

Rute gerilya disepakati dengan tujuan akhir Gunung Wilis, Kediri, Jawa Timur.

Di sana, anak buah Soedirman telah menyiapkan markas lengkap dengan pemancar radio.

Melalui pemancar itu, Panglima Besar akan mengirimkan komando ke seluruh prajurit TNI.

Belum jauh melangkah, perjalanan mereka tersendat.

Mobil tak bisa menyeberang sungai besar di dekat Pantai Parangtritis karena tiada jembatan penyeberangan.

Rombongan lantas meninggalkan kendaraan di tepi muara lalu menyeberangi sungai hati-hati.

"Kondisi kesehatan Pak Dirman sempat dicek oleh dokter pribadi. Saat itu kondisinya masih sama dengan saat di Bintaran," papar Abu Arifin yang lahir di Klampok, 19 Januari 1921, tersebut.

Lepas dari kendaraan bermesin, Soedirman ditandu beberapa warga.

Para pengawal mengiringi penandu dengan menenteng senjata.

Halaman
1234
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini