Kesimpulan mereka lebih menggunakan metode deduktif atau analisa kejadian serupa dan asumsi.
Komunikasi Kurma
Dalam buku bertajuk Misi Walet Hitam, Menguak Misteri Dr Azhari ditulis Komjen Pol Arif Wachjunadi ini juga dibeberkan penangkapan Amrozi oleh tim investigasi.
Amrozi ditangkap di rumahnya yang berada di Desa Tenggulun, Lamongan, Jawa Timur pada 5 November 2002.
Setelah pencarian selama satu bulan kurang satu hari dari berbagai informasi dan petunjuk yang didapatkan tim investigasi.
Arif menuturkan, semua hal itu, tidak lepas dari kuasa Tuhan dan juga kerja keras tim yang bekerja siang malam demi pengungkapan kasus.
"Semua itu serba kebetulan dan kuasa Tuhan. Coba bayangkan, polisi sama sekali tidak tahu peta teroris Indonesia selama ini. Baru kemudian tertangkap Amrozi, semuanya terbuka," kata perwira tinggi Polri kelahiran Bogor, Jawa Barat, 14 Mei 1960, 57 tahun itu.
Pendekatan dan wawancara kepada Amrozi oleh tim investigasi saat itu juga tidak mudah.
Berbagai pendekatan sudah dicoba, tetapi Amrozi tutup mulut mengenai peristiwa Bom Bali I.
Hingga akhirnya, Kapolda Bali saat itu, Brigjen Budi Setiawan mendapatkan informasi berharga melalui "Komunikasi Kurma".
Baca: Kawanan Perampok Sudah Dikepung Warga Tapi Tak Ada yang Berani Mendekat
Pasalnya, saat berbuka puasa, Amrozi terbiasa memakan kurma. Dari situlah, keduanya bisa berbincang.
"Kurma di Bali itu jarang sekali, bahkan tidak ada. Kurma didapat dari kiriman teman Pak Budi, setelah tim hampir menyerah menginterogasi Amrozi," tutur Arif.
Dari keterangan Amrozi, kemudian berturut tim menangkap anggota kombatan teroris lainnya seperti Ali Imron, Abdul Rauf dan Imam Samudra di Pelabuhan Bakauheni, Lampung.
18 Bulan Cari Data
Peristiwa Bom Bali I, bagi Komjen Pol Arif Wachjunadi sangat penting untuk diungkap.
Alasannya, dari kejadian itu diketahui bahwa anggota kelompok radikal dan terorisme itu ada di Indonesia.
Bahkan menurutnya, kejadian yang menewaskan setidaknya 202 orang itu, sebagai bentuk eksistensi dari para teroris.