TRIBUNNEWS.COM, SUMBAWA - Presiden Joko Widodo meninjau pelaksanaan program padat karya tunai di Desa Pernek, Kecamatan Moyo Hulu, Senin (30/7/2018) saat kunjungan kerja ke Kabupaten Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).
Didampingi Menteri PU dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN Sofyan Djalil, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko dan Gubernur Nusa Tenggara Barat Muhammad Zainul Majdi, Presiden melihat langsung pembangunan irigasi kecil sepanjang 319 meter dengan biaya sebesar Rp 225 juta.
Pekerja yang terlibat dalam padat karya tunai ini adalah sebanyak 80 orang dan waktu pengerjaan selama 60 hari.
Manfaat yang diperoleh adalah irigasi akan mampu mengairi irigasi sawah seluas 80 hektare.
Dalam kesempatan tersebut, Presiden Jokowi sempat berbincang-bincang dengan pekerja padat karya tunai yang sebagian besar merupakan petani.
Baca: Pembunuhan M Amin Sudah Direncanakan Sang Istri dan Pacarnya Sejak Hari Ketiga Idul Fitri
Beberapa topik yang menjadi perbincangan Presiden dan para petani di antaranya adalah produktivitas lahan dan harga gabah.
Untuk produktivitas lahan, salah seorang petani menjelaskan bahwa dalam satu tahun lahan mereka dapat menghasilkan panen padi sebanyak dua kali dan satu kali untuk palawija.
Jokowi juga memuji panen padi yang dihasilkan dari setiap hektarenya.
"Sekarang kalau satu hektar bisa dapat berapa ton? 6 ton padi, ya tinggi dong, 6 ton padi tinggi," ujarnya.
Hal lain yang disampaikan petani adalah mengenai harga gabah.
Jokowi mengatakan apabila pemerintah menaikkan harga gabah, maka harga beras akan naik. Tentunya hal seperti ini akan menyenangkan petani.
Namun di sisi lain masyarakat harus membeli beras dengan harga yang lebih tinggi.
"Pemerintah itu menjaga keseimbangan harga beras, harga berasnya biar enggak mahal tapi petaninya juga mendapatkan harga gabahnya baik," ujar Jokowi.