Ledakan yang terjadi tiba-tiba itu membuat warga berhamburan karena panik, serta menghasilkan getaran yang sangat kencang.
Diperkirakan, getaran itu dirasakan sampai radius lebih dari 6 kilometer (km).
Bahkan ledakan itu juga berdampak pada kantor Polsek Balongan yang lokasinya diperkirakan mencapai 3 km dari adanya ledakan yang mengalami kerusakan pada pintu masuk.
Sebelum meledaknya kilang minyak itu, Warga desa Sukaurip, Kecamatan Balongan, Indramayu, Jawa Barat melakukan aksi unjuk rasa kepada pihak PT Pertamina.
Warga yang jumlahnya sekitar 50 orang menggeruduk pintu gerbang Kilang Balongan, menuntut permintaan bantuan susu dan pemeriksaan kesehatan.
Itu dilakukan, karena sepanjang malam sebelum terjadinya ledakan, masyarakat mencium bau limbah gas tidak sedap yang memicu gangguan pernapasan dari area Kilang Balongan.
"Jatah kesehatan, susu kan nuntutnya begitu. Minta kejelasan dari Pertamina, 'mana ini', ternyata gak dateng-dateng," kata Sujana warga Desa Sukaurip kepada Tribunnews.com, Selasa (30/3/2021).
Kediaman Sujana sendiri berada tidak jauh dari lokasi ledakan, hanya sekitar 500 Meter.
Dirinya pun menjadi salah seorang warga yang merasakan dahsyatnya dentuman, aroma gas tidak sedap hingga panasnya kobaran api saat terjadi ledakan.
Saat itu Sujana bersama warga sekitar kampungnya mendesak PT. Pertamina untuk menyalurkan bantuan.
Pasalnya kata dia, hanya desa Sukaurip saja yang saat kejadian bau gas meluap belum menerima sumbangan.
"Kalau di sini (Sukaurip) enggak (dapet) makanya pada nuntut tuh, penginnya disamain sama yang (daerah) kosambi sama balongan kompensasinya. Makanya ada aksi semalem," tutur Sujana dibantu sautan dari para tetangga.
Sujana menyatakan, bau limbah gas yang keluar dari area Kilang Balongan bukan yang pertama kali dirasakan.
Warga desa Sukaurip itu layaknya sudah akrab dengan aroma tidak sedap setiap kali Pertamina membuang limbah gas.