"Kami tidak lepas, dalam hal ini kami melakukan pendampingan agar masyarakat di Kecamatan Bahodopi ini bisa sama-sama menjaga kelestarian lingkungan," kata Agus.
Pemantauan Rutin
IMIP juga senantiasa melakukan pemantauan mangrove yang sudah ditanam oleh para warga.
Waktunya tidak menentu, bisa sekali dalam sepekan atau sekali dalam dua pekan.
Jika saat pemantauan tersebut ada mangrove yang rusak, tim IMIP akan langsung menggantinya.
Dalam melakukan program ini, IMIP bukan tanpa tantangan. Menurut Agus, salah satu tantangannya adalah soal kesadaran masyarakat.
Agus menilai pentingnya partisipasi aktif warga dalam menjaga lingkungan.
"Masyarakat perlu punya kesadaran yang lebih untuk menjaga lingkungan," kata Agus.
Baca juga: Menjaga Alam Indonesia, Merawat Mangrove Lewat Panggung Dongeng
Wisata Mangrove
Menariknya, kawasan mangrove di Desa Padabaho kini mulai dikembangkan menjadi destinasi wisata.
Pantauan Tribunnews di lokasi, kawasan tersebut memang sedang dalam proses pembangunan menjadi tempat wisata mangrove.
Jembatan untuk orang lalu lalang di sekitar mangrove telah dibangun cat warna warni. Ada juga beberapa spot yang bisa dijadikan tempat foto dengan pemandangan laut.
Di kawasan tersebut juga sedang dibangun semacam kantin untuk para pengunjung membeli makan minuman dan duduk santai.
Sementara itu, di pintu masuk kawasan mangrove ada loket dan toilet yang sedang dibangun IMIP.
Kawasan wisata mangrove di Desa Padabaho rencananya akan diresmikan pada Oktober mendatang.
"Kedepannya ini akan dikelola oleh desa sendiri mungkin lewat Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) atau kelompok yang sudah dibentuk oleh desa itu," kata Agus.
Dengan dikembangkannya ini menjadi desa wisata, Agus percaya pendapatan desa dapat terbantu serta menggerakkan perekonomian masyarakat sekitar.
Baca tanpa iklan