Mu’ti menjelaskan kurikulum darurat dibagi dalam tiga tahap:
- Tanggap Darurat (0–3 bulan): literasi dasar, numerasi, kesehatan, keselamatan diri, dukungan psikososial, mitigasi bencana.
- Transisi (3–12 bulan): kurikulum adaptif berbasis krisis, jadwal fleksibel, blended learning bila memungkinkan.
- Pemulihan Lanjutan (1–3 tahun): integrasi pendidikan kebencanaan, penguatan kualitas pembelajaran, pembangunan sekolah baru.
Penilaian siswa dilakukan sederhana, fokus pada kehadiran, keamanan, dan kenyamanan. Guru menilai kurikulum darurat memberi fleksibilitas, sementara orang tua melihat kebijakan ini sebagai langkah realistis yang memberi harapan.
Baca juga: Tak Hanya Anak-anak, Kak Seto Sebut Orang Tua Korban Bencana Sumatera Lebih Rentan Trauma
Pendidikan Jadi Kunci Pemulihan
Kurniasih menekankan menjaga akses pendidikan bagi generasi muda di wilayah terdampak bencana merupakan bagian dari strategi pemulihan sumber daya manusia.
Pendidikan yang terjamin akan membantu anak-anak dan mahasiswa bangkit dari trauma, menjaga harapan, serta mempersiapkan mereka menjadi generasi tangguh.
“Pemulihan pascabencana tidak hanya membangun kembali fisik dan infrastruktur, tetapi juga memastikan kualitas sumber daya manusia tetap terjaga. Pendidikan adalah kunci agar anak-anak dan mahasiswa di Sumatra tetap memiliki masa depan yang lebih baik,” pungkasnya.
Baca tanpa iklan