News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Kisah Child Grooming Aurelie Moeremans Dalam Buku Broken Strings Viral, Menteri PPPA & DPR Merespons

Penulis: Faryyanida Putwiliani
Editor: Tiara Shelavie
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

BUKU AURELIE MOEREMANS - Aurelie Moeremans bercerita pada Tribunnews.com tentang Broken Strings, buku yang ramai jadi buah bibir karena ungkap sisi kelamnya di masa lalu. Menteri PPPA Arifah Fauzi dan Anggota Komisi XIII DPR RI Rieke Diah Pitaloka ikut merespons kisah child grooming yang dialami Aurelie Moeremans.

 

TRIBUNNEWS.COM - Viralnya Buku Broken Strings yang berisikan kisah child grooming yang dialami artis Aurelie Moeremans ternyata juga didengar oleh Menteri Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi hingga Anggota Komisi XIII DPR RI, Rieke Diah Pitaloka.

Menteri PPPA Arifah Fauzi dan Anggota Komisi XIII DPR RI Rieke Diah Pitaloka pun sama-sama menyadari bahwa praktik child grooming ini tak hanya bisa dialami oleh Aurelie Moeremans saja, tapi juga bisa dialami oleh anak-anak Indonesia lainnya.

Child grooming adalah proses manipulasi yang dilakukan oleh orang dewasa untuk membangun hubungan emosional dengan anak dengan tujuan mengeksploitasi mereka secara seksual. 

Berikut tanggapan Menteri PPPA Arifah Fauzi dan Anggota Komisi XIII DPR RI Rieke Diah Pitaloka tentang kisah Child Grooming yang dialami Aurelie Moeremans yang diceritakan sang artis dalam Buku Broken Strings:

Menteri PPPA Ingatkan Bahaya Praktik Child Grooming

CHILD GROOMING - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi menyatakan, gadget menjadi sumber kekerasan pada anak. Penggunaan gadget pada anak perlu diawasi oleh orang tua. Hal itu disampaikan saat ditemui di kantor KemenPPPA, Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (6/8/2026) (Tribunnews.com/ Rina Ayu)

Menurut Menteri Arifah, buku karya Aurelie Moeremans ini bisa menjadi pengingat penting bahwa kekerasan terhadap anak adalah nyata, bisa menimpa siapa saja, dan membutuhkan upaya bersama untuk memperkuat sistem perlindungan anak.

Pasalnya hingga kini praktik child grooming dan kekerasan seksual terhadap anak masih menjadi ancaman serius yang nyata di tengah masyarakat. 

Modus child grooming ini juga kerap kali berlangsung secara tersembunyi dan sering luput dari pengawasan keluarga maupun lingkungan terdekat anak.

"Child grooming dan kekerasan seksual terhadap anak adalah ancaman nyata dan serius yang kerap terjadi di sekitar kita."

"Pelaku biasanya membangun kedekatan dan kepercayaan anak secara bertahap sebelum melakukan eksploitasi dan kekerasan," ujar Arifah melalui keterangan tertulis, Kamis (15/1/2026).

Arifah menilai praktik child grooming tidak hanya terjadi di ruang publik atau dunia digital, tetapi juga bisa berlangsung di lingkungan yang dianggap aman, seperti keluarga, komunitas, hingga satuan pendidikan. 

Pola pendekatan pelaku yang tampak wajar membuat banyak kasus tidak terdeteksi sejak awal.

"Pemahaman masyarakat terhadap tanda-tanda awal grooming menjadi sangat penting sebagai langkah pencegahan. Kami berharap masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan melindungi anak-anak agar tidak terjebak dalam bujuk rayu pelaku," katanya.

Seiring pesatnya perkembangan teknologi, Kementerian PPPA mencatat praktik child grooming juga semakin marak terjadi di ruang digital. 

Biasanya pelaku memanfaatkan media sosial, game daring, dan berbagai platform komunikasi untuk menjalin relasi dengan anak, menyamarkan identitas, serta memanipulasi korban secara psikologis.

Baca juga: Cerita Buku Broken Strings Viral, Aurelie Moeremans Unggah Video Masa Remajanya dan Tulis Pesan Haru

Halaman
123
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini