TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Di tengah lanskap politik nasional yang kian padat, satu partai baru kembali muncul.
Namanya Partai Gerakan Mandiri Bangsa (Gema Bangsa). Didirikan pada 17 Januari 2025, partai ini bersiap mendeklarasikan diri secara resmi pada Januari 2026, bertepatan dengan ulang tahun pertamanya.
Di mata banyak orang, mendirikan partai politik baru di Indonesia hari ini bukan perkara mudah. Dari puluhan partai yang berdiri, hanya 18 yang lolos verifikasi Pemilu 2024, dan hanya delapan yang berhasil menembus parlemen.
Namun bagi para pendirinya, Gema Bangsa justru lahir dari pengalaman panjang dan kegelisahan yang menumpuk.
“Gema Bangsa lahir dari keresahan berpolitik, dari praktik partai yang selama ini serba sentralistik, semua kebijakan ditentukan pusat. Kami menawarkan gagasan baru: desentralisasi politik,” ujar Sekretaris Jenderal Partai Gema Bangsa, Muhammad Sopiyan dalam wawancara eksklusif dengan Direktur Pemberitaan Tribun Network, Febby Mahendra Putra, di Studio Tribunnews, Jakarta, Selasa (13/1/2026).
Baca juga: Gema Bangsa: Kepala Daerah Dipilih DPRD Kemunduran Demokrasi
Tanpa Bohir, Masih Patungan
Hal yang cukup mencuri perhatian adalah pengakuan jujur Sopiyan soal pendanaan partai.
Hingga kini, Gema Bangsa belum memiliki bohir.
“Terus terang, sampai saat ini kami belum punya bohir,” kata Sopiyan.
“Semua masih patungan pengurus!”
Operasional partai dijalankan secara gotong royong. Kantor disediakan oleh salah satu pengurus, sementara kebutuhan lain dipenuhi dari iuran internal.
Dukung Prabowo 2029, Tetap Dukung Pilkada Langsung
Deklarasi resmi Gema Bangsa akan digelar 17 Januari 2026.
Agenda utamanya bukan sekadar peresmian identitas, tetapi juga penyampaian sikap politik.
Baca tanpa iklan