Upaya pencegahan kini menjadi fokus utama, salah satunya melalui skrining dan imunisasi.
“Upaya-upaya kita banyak hal promotif-preventif, salah satunya contohnya pemberian imunisasi pada HPV untuk kanker leher rahim,” jelas Andi.
Selain imunisasi, skrining rutin juga menjadi langkah penting untuk menemukan kanker sejak tahap awal sebelum berkembang menjadi lebih serius.
Namun, upaya ini diakui tidak mudah dilakukan tanpa dukungan luas.
Program skrining Iman Papilloma Virus (HPV)yang dilakukan di berbagai provinsi, misalnya, membutuhkan kerja sama besar lintas sektor dan tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah pusat.
Di sisi lain, pemerintah juga terus memperkuat layanan pengobatan kanker agar lebih merata di seluruh Indonesia.
Berbagai fasilitas kesehatan kini dilengkapi dengan teknologi penunjang seperti radioterapi, laboratorium kanker, hingga layanan kedokteran nuklir seperti PET scan.
Langkah ini bertujuan agar pasien tidak perlu lagi menempuh jarak jauh untuk mendapatkan layanan pengobatan yang memadai.
Meski demikian, Andi mengakui bahwa pengembangan layanan ini membutuhkan biaya besar dan menjadi salah satu komponen yang menyedot anggaran kesehatan nasional.
Pemerintah menegaskan bahwa penanggulangan kanker tidak bisa dilakukan sendiri.
Diperlukan kolaborasi antara berbagai pihak, mulai dari akademisi, tenaga kesehatan, pemerintah daerah, hingga organisasi internasional.
“Intinya bahwa nggak bisa kalau kita cuman kementerian kesehatan saja yang bekerja, nggak mungkin itu,” tegasnya.
Selain itu, edukasi kepada masyarakat juga menjadi faktor penting. Komunikasi yang tepat dinilai mampu meningkatkan kesadaran masyarakat untuk melakukan pencegahan sejak dini.
Baca tanpa iklan