Sehingga, jika rupiah melemah tajam, itu bisa menjadi tanda ada masalah besar dalam ekonomi.
Hal ini, kata Harris, pernah terjadi pada tahun 1998 saat Indonesia mengalami krisis rupiah, karena tingginya utang luar negeri swasta dalam mata uang asing dan masalah fundamental perbankan.
"Kita tahu Pak bahwa rupiah is unbiased predictor terhadap kondisi 98, di 98 proporsi utang luar negeri kita besar sekali, dan di 98 level of depreciation-nya luar biasa, dari 2.500 ke 16.500."
"Kalau sekarang, katakan depresiasinya dari 16.500 ke 17.600, dan proporsi utangnya dominan di utang domestik. Tetapi bagaimanapun juga Pak, ini adalah tanggung jawab BI untuk menjaga stabilitas mata uang rupiah," ujar Harris.
DPR Minta Gubernur BI Mundur
Anggota Komisi XI DPR RI Primus Yustisio meminta kepada Perry untuk mundur dari jabatannya, setelah nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang makin loyo.
Mulanya, Perry menyoroti soal anomalinya kondisi ekonomi Indonesia yang disebut mengalami pertumbuhan 5,61 persen akan tetapi nilai tukar rupiah terus anjlok.
"Yang berhubungan dengan tugas dan fungsi Bank Indonesia, itu anomali. Pertumbuhan ekonomi kita 5,61 persen, tetapi nilai tukar rupiah kita jeblok, bahkan sekarang ada di level rekor terendahnya terhadap dolar," kata Primus dalam ruang rapat, Senin.
Tak hanya terhadap nilai tukar rupiah, Primus juga menyoroti makin merosotnya nilai Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Indonesia.
Dia mengatakan, di saat seluruh negara sudah kembali rebound imbas perang Amerika Serikat-Israel terhadap Iran, Indonesia justru mengalami minus.
"Indeks kita juga habis Pak, merosot turun, di mana indeks seluruh dunia sejak perang tembak rudal itu tanggal 28 Februari, apa yang terjadi terhadap indeks dunia itu terjadi pada seluruhnya. Dan mereka sudah rebound, bahkan sudah plus, dan Indonesia saat ini masih minus lebih dari 20 persen," ucap dia.
Atas kondisi ini, politikus PAN tersebut menyatakan kalau sejatinya dunia internasional telah menyoroti kinerja dari BI yang merupakan bank sentral di Indonesia.
Menurut dia, kualitas terhadap kinerja BI dari menurunnya seluruh aspek perekonomian di Indonesia harus dipertanyakan secara tajam.
"Ini kan bagaimana global mempertanyakan, salah satu, ada banyak faktor, tetapi mempertanyakan kualitas Bank Indonesia, Bank Sentral kita ini. Nah, ini yang menurut saya, saya harus secara tajam pertanyakan," ucapnya.
Sebab, kata Primus, pelemahan nilai tukar rupiah tidak hanya terjadi terhadap dolar AS, melainkan juga terhadap seluruh mata uang asing yang ada di dunia. Bahkan, terhadap dolar Singapura dan ringgit Malaysia juga.
"Faktanya dan ironisnya Pak, ini terhadap semua mata uang. Kita melemah terhadap Singapura, terhadap Australia, terhadap Ringgit, terhadap Real, apalagi Hong Kong Dolar, Euro."
Baca tanpa iklan