TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Publik dan masyarakat kembali diajak merenungkan perjalanan reformasi 1998 di tengah tantangan ekonomi dan geopolitik yang dihadapi Indonesia saat ini.
Menurut Ketua Umum DPP Prabowo Mania 08, Akhmad Gojali Harahap, krisis ekonomi dan moneter yang terjadi menjelang lengsernya Presiden Soeharto harus menjadi pelajaran penting agar Indonesia mampu bertahan menghadapi tekanan global saat ini.
"Sebelum Presiden Soeharto dilengserkan, kondisi ekonomi nasional menghadapi krisis ekonomi dan moneter. Nilai Rupiah terhadap dolar anjlok,” kata Gojali kepada wartawan di Jakarta, Kamis (21/5/2026).
Dia juga menyinggung situasi sosial, politik dan demokrasi pada masa itu yang menurutnya mengalami kemunduran hingga memicu lahirnya era reformasi pada 21 Mei 1998.
Karena itu, dia meminta seluruh elemen bangsa belajar dari sejarah agar Indonesia tidak kembali mengalami krisis serupa.
“Kita sebagai anak bangsa sebaiknya merenungi dan berupaya bagaimana saat ini Indonesia mampu menghadapi situasi dan kondisi perekonomian nasional yang sedang menghadapi ujian berat,” ujarnya.
Menurut Gojali, Indonesia sebagai negara besar harus mampu berdiri di atas kaki sendiri, baik secara ekonomi, politik maupun ketahanan sosial.
Ia menilai pemerintahan Presiden Prabowo Subianto selama satu tahun tujuh bulan terakhir telah berupaya membangun fondasi ekonomi dan demokrasi yang lebih kuat.
Gojali menyebut salah satu fokus utama pemerintahan Prabowo adalah memperkuat kemandirian pangan dan energi sebagai fondasi negara demokrasi yang berdaulat.
“Suatu negara demokrasi yang berdaulat akan sangat bergantung pada pemenuhan kebutuhan ekonomi, kemandirian pangan dan energi sebagai fondasi dasar,” katanya.
Ia menilai langkah Prabowo memperkuat ketahanan pangan dan energi merupakan strategi menghadapi ancaman krisis global, gejolak geopolitik, hingga tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Meski demikian, Gojali mengingatkan Indonesia tetap perlu menjaga hubungan ekonomi internasional yang saling menguntungkan tanpa bergantung penuh kepada negara lain.
Menurutnya, Indonesia harus mampu memperkuat ekonomi nasional agar tetap bertahan di tengah dinamika geopolitik global.
“Presiden Prabowo Subianto dan para pemangku kebijakan negara harus berpikir dan bekerja keras untuk bertahan menghadapi gejolak nilai tukar rupiah, ancaman krisis energi dan ketersediaan pangan nasional,” tegasnya.
Gojali optimistis pemerintah mampu menghadapi tantangan ekonomi nasional seperti gejolak rupiah dan tekanan ekonomi global lainnya.
Baca tanpa iklan