TRIBUNNEWS.COM - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan potensi hujan masih akan terjadi di berbagai wilayah Indonesia pada periode 5–11 Juni 2026, meskipun musim kemarau mulai berkembang secara bertahap di sejumlah daerah.
Kondisi ini menunjukkan bahwa memasuki musim kemarau tidak serta-merta membuat seluruh wilayah terbebas dari hujan, terutama di kawasan yang masih dipengaruhi dinamika atmosfer aktif.
Hingga awal Juni 2026, perkembangan musim kemarau di Indonesia terus meluas.
BMKG mencatat sekitar 28,6 persen zona musim di Indonesia telah memasuki periode kemarau, terutama wilayah-wilayah yang berada di bagian selatan Nusantara.
Aktivitas Monsun Australia yang semakin menguat membawa massa udara lebih kering sehingga pembentukan awan hujan di sejumlah daerah mulai berkurang.
Dampak kondisi tersebut terlihat dari meningkatnya jumlah wilayah yang mengalami hari tanpa hujan (HTH) dengan durasi yang bervariasi.
Sebagian besar wilayah masih berada dalam kategori HTH sangat pendek, namun beberapa daerah telah mengalami periode tanpa hujan yang cukup panjang.
Salah satu wilayah dengan durasi HTH terpanjang tercatat berada di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.
Selain memicu berkurangnya hujan di sejumlah daerah, kondisi atmosfer yang lebih kering juga menyebabkan suhu udara meningkat.
Dalam beberapa hari terakhir, suhu maksimum di atas 35 derajat Celsius tercatat di sejumlah wilayah, termasuk Sumatra Utara, Riau, Lampung, Banten, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Papua Barat, dan Papua Selatan.
Hujan Lebat Masih Terjadi di Sejumlah Daerah
Baca juga: Prakiraan Cuaca Kota Ternate Sabtu, 6 Juni 2026: Moti Hujan Petir, Pulau Hiri Hujan Ringan
Meski kemarau mulai berlangsung, hujan dengan intensitas sedang hingga sangat lebat masih terjadi di berbagai wilayah Indonesia.
Curah hujan tinggi masih teramati terutama di kawasan Indonesia bagian utara, seperti Sumatra Utara, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Bangka Belitung, Papua Tengah, dan Papua Barat.
Menurut BMKG, kondisi tersebut dipengaruhi oleh sejumlah faktor atmosfer yang masih aktif.
Gelombang Kelvin dan Gelombang Rossby Ekuatorial masih mendukung pertumbuhan awan hujan di beberapa wilayah Indonesia.
Selain itu, adanya sirkulasi siklonik di sekitar Papua turut meningkatkan suplai uap air dan memperkuat pembentukan awan konvektif.
Baca tanpa iklan