Dengan perhitungan tersebut, kendaraan kemungkinan hanya ditawar pada kisaran Rp 120–130 juta. Dalam satu unit, selisih Rp 15 juta mungkin terlihat biasa.
Namun, jika perusahaan menjual 20 unit sekaligus, potensi nilai yang hilang bisa mencapai Rp 300 juta.
Jual ke End User: Harga Lebih Tinggi, tetapi Perlu Transparansi
Mempertimbangkan selisih nilai tersebut, sebagian perusahaan pun mencoba menjual kendaraan langsung ke end user demi memperoleh harga yang lebih tinggi. Strategi ini memang berpotensi menghasilkan nilai jual lebih optimal karena tidak ada margin dealer di tengah transaksi.
Kendati demikian, tantangan yang dihadapi jauh lebih kompleks. Calon pembeli end user biasanya lebih detail dan kritis dalam menilai kondisi kendaraan.
Beberapa hal yang umumnya ingin mereka ketahui antara lain:
- Apakah mobil pernah mengalami tabrakan.
- Apakah ada bekas banjir.
- Bagaimana kondisi mesin.
- Apakah ada rembesan oli.
- Riwayat servis kendaraan.
Persoalannya, banyak perusahaan tidak memiliki data kondisi kendaraan yang lengkap. Akibatnya, muncul sejumlah hambatan dalam proses penjualan, seperti:
- Negosiasi menjadi panjang.
- Pembeli ragu.
- Harga terus ditekan.
- Bahkan transaksi gagal karena kurangnya transparansi.
Di sinilah banyak perusahaan akhirnya tetap menjual dengan harga murah. Hal ini terjadi karena mereka tidak memiliki alat bukti untuk mempertahankan nilai kendaraan.
Inspeksi Jadi Senjata untuk Menjaga Harga Tetap Tinggi
Guna menjawab persoalan tersebut, perusahaan kini dapat memanfaatkan layanan inspeksi kendaraan. Melalui layanan Inspeksi Mobil Garasi.id, perusahaan bisa memperoleh laporan kondisi kendaraan yang komprehensif hingga 170 titik pengecekan.
Adapun pemeriksaan tersebut mencakup sejumlah komponen, di antaranya:
- Kondisi mesin.
- Transmisi.
- Sistem kelistrikan.
- Kaki-kaki dan suspensi.
- Struktur kendaraan.
- Interior dan bodi.
- Indikasi bekas tabrakan atau banjir.
Dengan laporan inspeksi yang transparan, proses penjualan pun menjadi lebih mudah bagi semua pihak. Beberapa manfaat yang dirasakan antara lain:
- Showroom lebih cepat menentukan harga.
- End user lebih percaya.
- Negosiasi menjadi lebih objektif.
- Perusahaan memiliki dasar kuat untuk mempertahankan harga jual.
Chief Executive Officer (CEO) Garasi.id Ardy Alam mengatakan, akar persoalan kerugian perusahaan sering kali bukan terletak pada kondisi mobil yang buruk, melainkan ketiadaan data pendukung.
"Banyak perusahaan sebenarnya tidak rugi karena mobilnya jelek, tapi karena tidak punya data yang bisa membuktikan kondisi kendaraan secara profesional. Akhirnya harga ditekan terus saat negosiasi," ujar Ardy dalam keterangan tertulis yang diterima Tribunnews.com, Sabtu (23/5/2026).
Ardy menilai bahwa inspeksi Mobil Garasi.id tidak sekadar memberikan informasi soal kondisi kendaraan. Layanan ini juga berperan sebagai alat untuk menjaga nilai aset agar tetap kompetitif di pasar.
Jangan Tunggu Mobil Jadi Beban
Pada akhirnya, dalam pengelolaan armada, kendaraan seharusnya diperlakukan sebagai aset yang memiliki siklus nilai, bukan sekadar alat operasional. Dengan begitu, keputusan untuk mempertahankan (keep) atau mengganti (replace) kendaraan dapat dihitung secara lebih strategis.
Beberapa pertimbangan yang perlu diperhatikan antara lain:
- Kapan biaya mulai tidak efisien.
- Kapan nilai pasar masih bagus.
- Serta kapan kendaraan mulai berpotensi menjadi beban biaya.
Baca tanpa iklan