Sudah dua tahun atau sejak diresmikan pada Agustus 2023, Rumah Anak SIGAP menjadi saksi bertumbuh dan berkembangnya anak-anak usia dini di Bandarharjo, sebuah kelurahan yang berada di tepi Laut Jawa.
Menempati rumah dinas Lurah Bandarharjo, Rumah Anak SIGAP menghadirkan ruang aman bagi tumbuh kembang anak. Sebuah ruang yang tak hanya dipenuhi permainan, tetapi juga pengasuhan, pendampingan, dan harapan baru bagi para orang tua.
Seperti pada Rabu sore, anak-anak Bandarharjo serta kelurahan lainnya diajak bermain bersama dengan membacakan cerita sambil menunjuk gambar.
"Tujuannya agar kosakata anak bertambah, juga merangsang pendengaran dan penglihatan. Lalu kita lihat bagaimana responsnya, apakah bisa mendengarkan atau mengucapkan," tutur Dian kepada Tribunnews.com.
Saat ini, ada 48 anak usia 0-3 tahun serta para orang tua yang menjadi penerima manfaat dari keberadaan Rumah Anak SIGAP Bandarharjo. Mereka terbagi ke dalam empat kelompok usia, yaitu: usia 0-6 bulan; usia 6-12 bulan; usia 12-24 bulan; dan usia 24-36 bulan.
Sepekan sekali, mereka berkegiatan di Rumah Anak SIGAP Bandarharjo sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. Setiap kegiatan akan didampingi koordinator dan fasilitator.
"Tim pengurus Rumah Anak SIGAP terdiri dari satu koordinator dan empat fasilitator yang sebelumnya telah menjalani seleksi dan pelatihan dari Tanoto Foundation," ujar Itis Arliani.
Fokus pada Golden Age
Itis menjelaskan, kegiatan di Rumah Anak SIGAP Bandarharjo menitikberatkan pada pemberian stimulasi dan peningkatan pengasuhan.
Fokus ini dipilih bukan tanpa alasan. Usia 0–3 tahun merupakan periode 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) atau masa yang sering disebut sebagai golden age karena menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan otak dan perkembangan anak.
"Kalau stimulasi dan pengasuhan tepat diberikan di 1000 HPK, perkembangan anak bisa optimal. Tapi kalau terlewat, nanti mengejarnya jauh lebih sulit," ungkap Itis.
Di fase ini, perkembangan otak terjadi sangat cepat, sehingga anak membutuhkan rangsangan berulang, interaksi hangat, dan pola pengasuhan yang konsisten. Sayangnya, pola pendampingan seperti itu tidak selalu memadai di banyak keluarga pesisir yang sebagian besar harus bekerja sejak pagi.
Nah, di Rumah Anak SIGAP Bandarharjo, anak-anak mendapatkan stimulasi lewat sejumlah rangkaian aktivitas yang dirancang sesuai tahap tumbuh kembang mereka. Mulai dari permainan sensorik, motorik, kognitif, hingga aktivitas bahasa seperti menyimak cerita dan menyebutkan benda-benda di sekitar.
Setiap sesi berlangsung dalam suasana santai, tapi terarah. Anak-anak diajak bermain sambil belajar, sedangkan para orang tua ikut mendampingi dan terlibat aktif agar mereka memahami cara memberikan stimulasi serupa di rumah.
"Kami fokusnya pada stimulasi sama pengasuhan. Banyak orang tua di sini yang belum tahu cara memberikan stimulasi yang tepat, jadi kami ajarkan lewat kegiatan bermain. Ketika orang tua ikut mendampingi, mereka jadi belajar langsung," kata dia.
Itis juga menyoroti cara pandang sebagian orang tua yang masih terpengaruh kondisi sosial-ekonomi di kawasan pesisir itu. Hampir setiap hari, Itis melihat bagaimana pemahaman tentang gizi dan pengasuhan sering kali terbentuk dari kebiasaan turun-temurun.
Baca tanpa iklan