Kondisi itu tidak terlepas dari fakta, Bandarharjo merupakan salah satu wilayah termiskin dan kumuh di Kota Semarang. Mayoritas warganya berprofesi sebagai pekerja pabrik dan nelayan.
"Di sini kan masih banyak nelayan. Hasil cari ikan biasanya terus dijual dan dibelikan nugget, mi instan bukan protein segar karena mereka pikir daging itu mahal. Ya, memang mahal, tapi, kan, nggak harus beli banyak. Selain itu, masih ada telur, ada ikan tongkol, kepiting, kerang yang merupakan hasil melaut mereka. Itu semua sebenarnya bisa dimanfaatkan dan diberikan ke anak," tutur Itis
Karena itu, kegiatan di Rumah Anak SIGAP Bandarharjo bukan hanya fokus pada stimulasi anak, tetapi juga mengubah pola pikir dan meningkatkan pengetahuan orang tua tentang gizi, tumbuh kembang, dan respons pengasuhan.
Wanita asal Palembang itu mencontohkan pentingnya fase merangkak yang umumnya dilalui bayi pada usia 6–10 bulan. Ketika seorang bayi belum bisa merangkak, maka stimulasi perlu diberikan agar ia melewati tahap tersebut.
"Yang diyakini orang-orang zaman dulu, 'enggak merangkak juga enggak masalah, yang penting bisa jalan'. Nah, pandangan itu keliru karena perkembangan anak sebaiknya mengikuti tahapan yang benar. Hal-hal seperti itu yang kami kikis melalui Rumah Anak SIGAP," kata dia.
Kesadaran inilah yang terus dibangun melalui berbagai aktivitas di Rumah Anak SIGAP. Melalui sesi bermain bersama, diskusi kecil, hingga edukasi yang dilakukan dari rumah ke rumah, orang tua diajak memahami pentingnya memberikan pendampingan yang konsisten.
"Harapannya orang tua semakin paham, perkembangan anak itu bukan cuma soal makan kenyang, tapi juga butuh stimulasi, butuh respons yang hangat, dan butuh perhatian," jelasnya.
Itis mengatakan, keikutsertaan masyarakat dalam kegiatan Rumah Anak SIGAP masih bersifat sukarela. Siapa pun yang memiliki anak berusia di bawah tiga tahun dipersilakan ikut tanpa dikenai biaya. Lebih luas lagi, bukan hanya warga Bandarharjo saja, tetapi warga dari kelurahan lain pun diterima dengan tangan terbuka.
Hadapi Banyak Tantangan
Selama menjalankan kegiatan di Rumah Anak SIGAP Bandarharjo, Itis tak menampik adanya sejumlah tantangan dan kendala yang dihadapi bersama para fasilitator lainnya. Salah satunya adalah faktor alam.
Berada di kawasan pesisir yang langsung berbatasan dengan laut, banjir rob menjadi momok yang tak terhindarkan. Kondisi ini tidak hanya menghambat jadwal kegiatan, tetapi juga memengaruhi konsistensi kehadiran orang tua dan anak.
Meski begitu, para fasilitator tetap berupaya menjaga agar pendampingan tidak terputus. Caranya dengan mengunjungi rumah para penerima manfaat ketika kondisi tidak memungkinkan untuk berkumpul di Rumah Anak SIGAP.
"Kami menggunakan layanan jemput bola. Kami datang ke rumah-rumah dan berkegiatan seperti biasanya," ujar Itis.
Tantangan lain yang dihadapi adalah masih rendahnya kesadaran sebagian masyarakat terhadap pentingnya pengasuhan sejak dini. Itis menuturkan, masih banyak orang tua yang mempertanyakan manfaat membawa bayi atau balita ke Rumah Anak SIGAP.
"Dulu, kami sering mendengar respons, 'lha ngapain bayi sekolah? paling planga-plongo tok,' atau 'kegiatan di situ ngapain? nggak ada guna, paling cuma tepuk-tepuk dan nyanyi, di rumah pun bisa diajarin,'" kata Itis menirukan komentar warga.
Menurutnya, anggapan tersebut muncul karena orang tua belum memahami, stimulasi dini bukan soal mengajari anak bernyanyi atau menepuk tangan saja. Dengan stimulasi yang tepat dapat membantu otak membentuk fondasi perkembangan yang kuat.
Baca tanpa iklan