Faktor ekonomi juga menjadi tantangan tersendiri. Banyak keluarga di Kelurahan Bandarharjo yang memprioritaskan pemenuhan kebutuhan harian, sehingga kegiatan pengasuhan sering kali dianggap bukan prioritas.
Selain eksternal, ada tantangan internal yang juga sempat dihadapi oleh Itis sendiri. Menurutnya, program Rumah Anak SIGAP adalah hal baru baginya meski sudah lama berkecimpung di dunia anak-anak dengan menjadi kader posyandu.
"Awalnya ya bingung, karena kami harus jadi guru dadakan. Namun, Alhamdulillah, kami benar-benar dipandu dan didampingi tim Tanoto Foundation. Mulai dari administrasi, pembelajaran, alat-alat permainan, materi stimulasi, dan modul pun sudah disediakan oleh Tanoto Foundation," urainya.
Dampak Positif dan Nyata
Untuk menjaring peserta, Itis dan para fasilitator aktif melakukan sosialisasi melalui berbagai jalur, mulai dari kegiatan RT dan RW, posyandu, PKK, dasa wisma (dawis), hingga media sosial. Upaya ini membuahkan hasil. Perlahan, jumlah anak dan orang tua yang mengikuti kegiatan Rumah Anak SIGAP Bandarharjo terus meningkat.
Menurut Itis, kenaikan itu juga didorong oleh promosi dari mulut ke mulut atau getok tular para orang tua penerima manfaat. Mereka bercerita kepada tetangga dan kerabat tentang perubahan positif yang terlihat pada anak-anak setelah rutin mengikuti stimulasi dan pendampingan di Rumah Anak SIGAP Bandarharjo.
"Anak-anak yang tadinya masih ngedot, sekarang sudah tidak lagi. Mereka juga lebih berani ketika bertemu orang baru, nggak takut dan malu, tahu caranya berbagi, bisa bermain bersama dan berinteraksi dengan teman," jelas Itis.
Maka dari hal tersebut, satu per satu, orang tua berdatangan ke Rumah Anak SIGAP Bandarharjo yang berada tepat di samping kantor Kelurahan Bandarharjo. Dengan menggandeng buah hati, mereka datang tidak hanya untuk bertemu dengan orang tua lainnya, tetapi juga mencari pemahaman baru tentang tumbuh kembang anak.
Dampak positif juga dirasakan oleh Ani Purwanti (50) yang secara sukarela ikut menjadi penerima manfaat. Ia mengatakan, banyak perubahan yang terlihat pada sang cucu, Almahira (2 tahun), sejak mengikuti kegiatan di Rumah Anak SIGAP Bandarharjo.
Warga Tikung Baru itu mulai membawa Almahira ke Rumah Anak SIGAP sejak usia tiga bulan, mengikuti ajakan seorang kader yang tinggal di dekat rumahnya. Sejak saat itu, ia hampir selalu hadir dalam setiap kegiatan.
"Dulu Almahira itu penakut, sukanya gelendotan terus sama saya," ujarnya.
Namun kini, sang cucu jauh lebih berani. Ia bisa bermain perosotan sendiri, tidak takut bertemu orang baru, dan sudah memahami banyak hal dasar seperti warna, angka, dan hafalan-hafalan sederhana.
Ani mengaku, sebagai nenek yang mengasuh cucu pertama, ia banyak belajar tentang pola pengasuhan lewat kegiatan di Rumah Anak SIGAP. Mulai dari cara memberikan stimulasi yang tepat, bagaimana merespons anak, hingga pentingnya interaksi yang hangat.
"Harapan saya, Almahira bisa menjadi anak yang pintar, berprestasi, tumbuh kembangnya sesuai dengan usianya. Dan semoga banyak orang tua atau pengasuh lain yang ikut belajar di sini. Soalnya manfaatnya memang terasa," ungkapnya.
Pentingnya Stimulasi Sejak Dini
Pentingnya stimulasi sejak usia dini juga ditegaskan oleh pakar pendidikan anak usia dini, Dr Khasan Ubaidillah. Menurutnya, stimulasi sejak usia dini merupakan fondasi penting bagi perkembangan otak anak.
Pada masa golden age, otak bekerja jauh lebih cepat dalam menyerap informasi dibandingkan orang dewasa. Pada fase inilah kualitas stimulasi akan sangat menentukan arah perkembangan kognitif, bahasa, sosial-emosional, moral, hingga fisik-motorik anak.
"Stimulasi bukan sekadar aktivitas belajar akademis. Ia harus meliputi seluruh aspek perkembangan," ujarnya.
Stimulasi, lanjut dia, juga berfungsi sebagai 'scaffolding' atau dukungan terstruktur dari orang dewasa agar anak dapat bertumbuh sesuai tugas perkembangan usianya.
Khasan mencontohkan pengalamannya sendiri ketika anaknya lahir prematur. "Saat usia teman-temannya sudah belajar berjalan, anak saya duduk pun masih sulit," ujarnya. Pemeriksaan lebih mendalam kemudian mengungkap adanya masalah perkembangan yang memerlukan terapi.
Karena itu, ia menilai edukasi terhadap orang tua mengenai standar capaian perkembangan juga menjadi hal krusial. Tanpa itu, stimulasi akan berjalan tanpa arah dan tidak menyentuh kebutuhan anak.
Dalam banyak kasus, masalah perkembangan anak tidak hanya berasal dari sekolah, tetapi juga lingkungan rumah. Karena itu, program yang melibatkan orang tua, seperti kuliah umum atau pelatihan pengasuhan, sangatlah penting. Namun, kegiatan tersebut harus bersifat partisipatoris, bukan sebatas ceramah satu arah.
Ia menjelaskan, terdapat tiga kebutuhan dasar perkembangan yang harus dipenuhi melalui stimulasi yang benar. Pertama adalah rasa aman. Anak yang sering dibentak, dibanding-bandingkan, atau ditekan akan cenderung tumbuh dengan rasa tidak aman dan menjauh dari orang tua.
Kedua, pengakuan. Apresiasi sederhana terhadap hasil karya anak akan menumbuhkan rasa percaya diri dan keberanian mencoba hal baru.
Terakhir adalah kontrol diri. Orang tua memberi ruang bagi anak mengatur aktivitasnya (tanpa melepaskan batas yang wajar) sehingga membuat anak merasa dipercaya.
"Jika ketiganya terpenuhi, anak akan tumbuh lebih mandiri, percaya diri, dan siap belajar," tegasnya.
Terkait program Rumah Anak SIGAP yang memberikan stimulasi pada anak usia 0–3 tahun serta melibatkan orang tua, Khasan menilai program semacam itu sangat berkontribusi pada kesiapan belajar anak asal memenuhi satu syarat penting: asesmen diagnostik di awal.
Menurutnya, asesmen diperlukan untuk mengetahui kebutuhan perkembangan masing-masing anak; memahami tipe belajar anak; menyusun program individual yang sesuai; serta memantau capaian stimulasi secara berkala.
"Kalau asesmennya tepat dan programnya responsif pada kebutuhan anak, hasilnya hampir pasti baik," ujarnya.
Dukungan dan Kolaborasi
Sementara itu, System Strengthening Unit Coordinator Tanoto Foundation Java Regional, Ahmad Syaiful Bahri mengatakan, kegiatan yang telah berjalan selama dua tahun di Rumah Anak SIGAP Bandarharjo sudah sesuai dengan apa yang dikehendaki Tanoto Foundation, baik dari sisi kualitas maupun kuantitas.
"Dari sisi jumlah peserta, target kami adalah 40 anak beserta pengasuhnya. Itu semua terpenuhi dan konsisten," terangnya, Senin (24/11/2025). Selain itu, jumlah kelas dan fasilitator yakni empat orang, sesuai desain awal program.
Terkait dampak program Rumah Anak SIGAP, Syaiful menyebutkan, perubahan nyata telah terlihat pada pola asuh keluarga di Bandarharjo.
Dalam skala kecil misalnya, orang tua tidak lagi membentak-bentak anak. Ia juga melihat meningkatnya pemahaman orang tua mengenai pola asuh yang benar, termasuk cara memberikan stimulasi dan memahami kebutuhan anak.
"Terus peran ayah juga terlibat. Jadi berbagi peran parenting antara ayah dan ibu," jelasnya.
Ia pun berharap kolaborasi lintas pihak mulai dari pihak pemerintah kelurahan, kota, serta masyarakat dapat terus berlanjut agar program Rumah Anak SIGAP Bandarharjo semakin menguat. Terlebih saat ini, Rumah Anak SIGAP Bandarharjo telah berstatus sebagai Rumah Anak SIGAP mandiri.
"Harapan saya, program Rumah Anak SIGAP terus dilanjutkan oleh Pemerintah Kota Semarang melalui Dinas Kesehatan. Kemudian Rumah Anak SIGAP juga dapat menjadi layanan yang menyempurnakan pola pengasuhan dan stimulasi dini, dan terintegrasi dengan program penanganan penurungan stunting di Kota Semarang," ucapnya.
Selain itu, ia berharap layanan ini dapat menjadi sarana edukasi perubahan perilaku masyarakat yang relevan terkait berbagai isu kesehatan.
Perjalanan Rumah Anak SIGAP Bandarharjo selama dua tahun terakhir juga tak lepas dari peran serta Lurah Bandarharjo, Sayoko. Demi menjaga menjaga keberlangsungan Rumah Anak SIGAP Bandarharjo yang kini menjadi salah satu aset kelurahan, Sayoko mengerahkan segala daya dan upaya secara maksimal.
Satu di antaranya dengan menyediakan sarana prasarana yang memadai seperti air dan listrik. "Kami di kelurahan punya anggaran untuk melakukan maintenance. Jadi, jika ada kerusakan, bisa langsung ditangani. Misal, lampu mati atau eternit bolong," tutur Sayoko.
Sementara itu, untuk operasional koordinator dan fasilitator sebagai pelaksana Rumah Anak SIGAP, lanjut Sayoko, kini telah diserahkan kepada Dinas Kesehatan Kota Semarang.
"Ya, sejak dilepas oleh Tanoto Foundation, yang artinya kita tidak mendapatkan bantuan pendanaan lagi, kini Rumah Anak SIGAP Bandarharjo berada di bawah binaan Dinas Kesehatan Kota Semarang," katanya.
Meski demikian, dalam beberapa kesempatan, Sayoko tetap meminta agar para pelaksana kegiatan, yang berjumlah lima orang, agar mendapatkan berbagai pelatihan tambahan. Tujuannya, agar mereka dapat terus menambah dan memperbarui pengetahuan dalam mendampingi anak-anak di Bandarharjo.
Selama ini, koordinator dan fasilitator telah mendapatkan sejumlah pelatihan dari Tanoto Foundation. Namun, mengingat perkembangan pendidikan anak usia dini yang dinamis dan terus berubah, Sayoko menilai peningkatan kapasitas tetap sangat diperlukan.
"Kalau dari Dinas Kesehatan, bisa dari sisi masalah kesehatan. Misal bagaimana cara merawat anak usia sekian sampai sekian. Sementara untuk pelatihan pola asuh atau pendidikan anak usia dini bisa didapat dari Dinas Pendidikan bidang PNF," jelasnya.
Dengan segala dukungan ini, Sayoko pun berharap Rumah Anak SIGAP mampu menghasilkan dan membekali anak-anak Bandarharjo dengan fondasi yang kuat, baik dari sisi pengetahuan, kesehatan, maupun karakter.
Ia membayangkan, 20 tahun mendatang atau tepatnya pada tahun 2045, anak-anak yang kini bermain dan belajar di ruang sederhana itu tumbuh menjadi generasi yang luar biasa dan siap menempati berbagai posisi penting di berbagai bidang.
"Sekarang ini, Pak Lurahnya memang masih di atas tanah, tapi kan nggak tahu di tahun 2045 nanti. Semoga saja ada generasi penerus, terutama dari Kelurahan Bandarharjo, yang siap mengisi Indonesia Emas di tahun 2045,” ujarnya.
Bagi Sayoko, impian itu bukan sesuatu yang berlebihan. Ia percaya, jika sejak dini anak-anak diberikan ruang aman untuk tumbuh, diasah potensinya, dan didampingi dengan penuh kasih, maka bukan mustahil mereka kelak menjadi sosok-sosok yang membawa perubahan bagi lingkungan dan bangsanya. (*)
Baca tanpa iklan