Air putih tetap menjadi kebutuhan utama untuk mencegah dehidrasi.
Pilih makanan yang bergizi dan mudah dicerna.
Hindari kebiasaan berlebihan dalam konsumsi makanan.
"Biasanya seorang kalau kita menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan karena siang harinya lapar, menahan lapar dan haus, maka begitu datang buka puasa segala dimakan. Itu adalah dari sisi kesehatan Rasulullah tidak memberikan contoh seperti itu. Tapi Rasulullah dengan sederhana ya, dengan cukup saja berbuka puasanya," tambahnya.
Kesederhanaan yang dicontohkan Rasulullah SAW adalah bentuk keseimbangan antara ibadah spiritual dan kesehatan fisik.
4. Tarawih dan Qiyam Ramadan
Di malam hari, umat Muslim dianjurkan melaksanakan salat tarawih atau qiyam Ramadan.
Ibadah ini bisa dilakukan setelah salat Isya, di pertengahan malam, atau di sepertiga malam terakhir.
Pada masa Rasulullah SAW, qiyam Ramadan sering dilakukan di waktu malam yang lebih sunyi untuk menjaga kekhusyukan.
"Pada zaman Rasulullah SAW ibadah tarawih biasa dijalankan di tengah malam untuk menjalankan kekhusyuan ibadah," jelasnya.
Di Indonesia, tarawih umumnya dikerjakan berjamaah setelah Isya sebagai bentuk syiar Islam dan kebersamaan umat.
Yang terpenting bukan pada waktu pelaksanaannya, tetapi pada konsistensi dan kekhusyukan dalam menjalankannya.
Tarawih menjadi pelengkap puasa di siang hari, memperbanyak pahala dan memperkuat hubungan dengan Allah SWT.
Fadlil menjelaskan, ramadan adalah perjalanan spiritual selama kurang lebih 30 hari.
Bulan ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan momentum perubahan diri.
Setiap rasa lapar adalah pengingat untuk bersyukur, setiap dahaga adalah latihan kesabaran, dan setiap malam adalah peluang untuk mendekat kepada Sang Pencipta.
Menjalankan puasa sesuai sunnah Rasulullah SAW berarti meneladani kesederhanaan, menjaga adab, memperkuat niat, serta menghidupkan malam dengan ibadah.
(Tribunnews.com/Farra)
Artikel Lain Terkait Puasa Ramadan
Baca tanpa iklan