Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi
Ringkasan Berita:
- Puasa Rahamadan bukan sekadar menahan lapar dan haus.
- Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak umat melihat puasa dari sisi yang lebih dalam.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Ramadan sering dipahami sebagai ibadah menahan lapar dan dahaga.
Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak umat melihat puasa dari sisi yang lebih dalam, belajar dan meneladani sifat-sifat Tuhan.
Baca juga: Puasa Obat Kedunguan
Dalam refleksinya berjudul Belajar dari Sifat-sifat Tuhan, ia menegaskan bahwa salah satu hikmah puasa adalah proses internalisasi nilai ilahiah ke dalam diri manusia.
Nabi pernah bersabda, “Takhallaqu bi akhlaqillah” (berakhlaklah sebagaimana akhlak Allah SWT).
Pesan ini bukan sekadar ajakan moral, tetapi arah spiritual. Puasa menjadi latihan konkret untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dengan cara meniru sifat-sifat-Nya.
Menahan Diri, Sekaligus Belajar Memberi
Alquran menyebutkan, “huwa yuth’im wa la yuth’am” (Tuhan memberi makan dan tidak diberi makan) (Q.S.6:14).
Dalam puasa, manusia tidak makan dan minum pada siang hari, tetapi diwajibkan membayar zakat fitrah untuk memberi makan kepada yang membutuhkan.
Di sinilah letak keseimbangan spiritual itu. Menahan diri bukan untuk menyiksa, melainkan untuk membentuk empati dan kepedulian.
Tujuan akhirnya adalah mencapai derajat muttaqin.
Sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (Q.S. al-Baqarah/2:183).
Muttaqin bukan sekadar orang yang takut kepada Tuhan. Kata tersebut mengandung makna kombinasi cinta, hormat, dan kesadaran mendalam akan kehadiran-Nya.
Tuhan Maha Pencinta, Bukan Sosok yang Mengerikan
Dalam tulisannya, Nasaruddin menegaskan bahwa Allah tidak diperkenalkan sebagai sosok yang menakutkan.
Baca tanpa iklan