News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Dituntut Mundur Rektor Universitas Sam Ratulangi Hanya Tersenyum

Editor: Dewi Agustina
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Universitas Sam Ratulangi Manado

Laporan Wartawan Tribun Manado, Maickel Karundeng

TRIBUNNEWS.COM, MANADO - Perseteruan Fakultas Kedokteran (Faked) dan Rektor Universitas Sam Ratulangi, Prof Dr Donald Rumokoy makin meruncing.

Mahasiswa, alumni dan dosen di fakultas ternama itu, Selasa (25/2/2014) kembali menggelar unjuk rasa. Kali ini  mereka ramai-ramai mendatangi kantor pusat universitas, tempat Rumokoy ngantor.

Mereka sengaja datang untuk meminta langsung kepada Rektor mundur dari jabatannya. Saat itu, Rumokoy bersedia menyambut kedatangan para pengunjuk rasa.

Di depan Rektor, koordinator lapangan demonstrasi, Prof Max Mantik dengan lantang meminta Rumokoy mundur dari kursi Rektor.

Rektor dituding telah melakukan intervensi dalam pemilihan Dekan Faked dan mempolitisi fakultas tersebut sehingga kualitas lulusan Faked menurun.

"Kami menyampaikan mosi tidak percaya yaitu Rektor Unsrat tidak taat hukum dengan tidak memperhatikan kaidah hukum yang berlaku, mengintervensi, merekayasa proses pemilihan Fakultas Kedokteran. Kegagalan kepemimpinan Rektor Unsrat mengakibatkan proses pendidikan tidak kondusif, ada kecenderungan membangun rezim tirani. Kami menyatakan ini karena kecintaan kepada Rektor dan dengan ini kami menyatakan mosi tidak percaya dan menuntut Rektor Unsrat untuk segera mengundurkan diri," ujar Mantik.

Mendengar tuntutan tersebut, Rumokoy terlihat santai. Dia mengatakan, sebenarnya siapa yang menjadi Dekan Faked itu haruslah diterima secara legowo. Siap kalah atau siap menang.

"Masalahnya sekarang adalah ada sekelompok yang tidak siap untuk menerima kekalahan dan ini menjadi persoalan. Misalnya kelompok-kelompok yang ada di Faked Unsrat ingin memaksakan kehendak. Jadi saya kira ini bukan suatu pendidikan politik yang sehat di Faked. Saya sebenarnya ini sudah terlalu jauh berbicara mengenai politik, padahal ini hanya untuk menentukan siapa yang akan menjadi Dekan periode 2014-2018," ujarnya.

Rumokoy kemudian mengkritik dosen yang merupakan tenaga profesional yakni tugasnya mengajar, meneliti dan melakukan pengabdian kepada masyarakat sehingga tidak peduli siapapun yang akan menjadi Dekan atau Rektor, asalkan
gaji mereka tidak dipotong.

Ketika ditanya mengenai penunjukan Prof Dr David Kaligis sebagai Pelaksana tugas Dekan Faked, padahal yang bersangkutan merupakan pakar peternakan dari Fakultas Peternakan, Rumokoy kembali menegaskan posisi Kaligis di Faked adalah netral. Kemudian Kaligis hanya akan menjadi pelaksana tugas selama 25-26 jam dari pelantikan yang dilangsungkan Senin (24/2/2014).

Ditegaskan Rumokoy bahwa pemilihan dekan harus terus berjalan sebagai kelanjutan pemilihan yang lalu pada 23 November 2013.

"Seandainya kelompok-kelompok yang ada di Faked merasa bahwa calon mereka kalah maka terimalah yang menang, jangan memaksakan kehendak yang tidak didukung oleh suara mayoritas kemudian dipaksakan menang menjadi dekan. Karena itu saya menyesal ada pemaksaan dari sebagian mahasiswa yang seharusnya kuliah malah ikut unjuk rasa seperti ini," ungkapnya.

Sementara terkait tuntutan mundur, Rumokoy mengatakan bahwa tuntutan itu tidak mempunyai dasar serta bertentangan dengan aturan.

"Aturan mana yang dilanggar? Jika dikatakan mengundurkan diri maka itu adalah hak Menteri, masa saya akan meninggalkan Unsrat dalam keadaan seperti ini. Ini hanya satu fakultas (yang menuntut mundur) masih ada 10 fakultas yang lain di Unsrat. Tuntutan aspirasi sudah masuk dan akan dipelajari terlebih dahulu," tandasnya.

Mendengar jawaban Rumokoy, para pengunjuk rasa berteriak lantang menentang. Namun Rumokoy tetap santai menghadapi. Usai menyampaikan tuntutan dan mendengar tanggapan, Mantik menyerahkan dokumen mosi tidak percaya kepada Rumokoy. Kemudian keduanya berjabat tangan dan saling melempar senyum.

Massa kemudian menggelar aksi di DPRD Sulawesi Utara. Tuntutan yang disampaikan pun sama yakni mendesak Rektor mundur.

Dewan pun siap menemui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M Nuh untuk menyelesaikan masalah yang membelit Unsrat ini.

Sore harinya, Rektor Unsrat Prof Dr Donald Rumokoy melantik Prof Dr Ralph Kairupan sebagai Dekan Faked Unsrat menggantikan Prof Dr Sarah Warouw.

Lagi-lagi, langkah Rektor dinilai mahasiswa, alumni dan dosen sebagai tindakan ngawur karena tak sesuai prosedur pemilihan. Mereka tetap menolak Dekan Faked yang baru. (kel)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda

Berita Populer

Berita Terkini