TRIBUNNEWS.COM - Aroma malam yang khas menyeruak dari salah satu gazebo di Sekretariat Desa Wukirsari, Jalan Giriloyo, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul, Yogyakarta.
Di atas kain putih sepanjang satu meter dan lebar 15 sentimeter (cm) yang membentang di hadapannya, tangan kanan Jiel menari dengan canting. Sementara tangan kirinya menahan sisi kain agar tak bergeser.
Titik-titik malam mengalir pelan, meninggalkan jejak kuning keemasan dan membentuk garis, bunga, serta kupu-kupu di permukaan kain beralaskan selembar tripleks. Dari kejauhan, terdengar suara burung dan desir angin yang menembus sela-sela atap gazebo.
Di sampingnya, ada Giyanti, seorang perajin batik asal Padukuhan Giriloyo yang mengamati Jiel dengan sabar. Sesekali ia menunduk, memperbaiki posisi tangan Jiel, lalu tersenyum kecil karena ada garis batik yang melenceng dari pola.
"Pelan-pelan saja, tidak usah tergesa-gesa," ujarnya lembut kepada Jiel. Wanita paruh baya itu memang tak sepenuhnya paham dengan ucapan Giyanti, tetapi senyum dan gerak tangan sang perajin sudah sudah menjelaskan semuanya.
Ya, Jiel adalah satu di antara wisatawan asal Kanada yang siang hari itu, Senin (20/10/2025) berkunjung ke Kampung Batik Giriloyo, bagian dari Desa Wisata Wukirsari, sebuah sentra kerajinan batik tulis tradisional tertua dan terbaik di Bantul. Ditemani sang suami, Torn, Jiel belajar membatik untuk pertama kali.
"It's really really good, para perajin sangat membantu kami. Saya sangat mengapresiasi arahan dari mereka," ujar Jiel kepada Tribunnews.com.
Ingin mendapatkan pengalaman baru sekaligus merasakan kehidupan perdesaan menjadi alasan Jiel dan Torn yang baru pertama kali datang ke Indonesia, memilih Desa Wukirsari sebagai tujuan wisata. Ditambah, Jiel memiliki kegemaran membuat karya seni di rumah.
Tak hanya pengalaman baru yang mereka dapatkan, tetapi juga cerita tentang hangatnya sambutan warga. "Kami menginap di sini dan itu benar-benar pengalaman luar biasa," kata Jiel sambil tertawa lepas.
Baca juga: Semangat Saling Bantu KBA Solo: Bangkit dari Pandemi, Berjuang Demi Lestarikan Wayang Kulit
Terpikat pada Keindahan Motif dan Warna
Dari balik tawa Gael, pandangan mata beralih pada sosok Giyanti yang duduk di tepi tungku. Tatapannya menelusuri lembaran batik yang terpajang di gazebo—seolah menghitung waktu yang telah dihabiskan bersama kain dan malam. Di balik garis halus di wajahnya tersimpan kisah panjang perjuangan yang jarang diketahui orang.
Giyanti adalah satu di antara perajin batik tulis di Desa Wukirsari, sebuah desa yang berjarak sekitar 16-20 kilometer dari pusat Kota Yogyakarta. Desa seluas 1.530 Ha ini dikelilingi perbukitan Bantul, salah satunya Bukit Merak, lokasi kompleks makam terbesar raja-raja Mataram Islam di Yogyakarta.
Di balik ketenangan suasana desa yang dilingkupi aroma sejarah, kehidupan warga Wukirsari berdenyut dari goresan canting dan tetes malam panas. Setiap garis pada kain bukan sekadar motif, tetapi jejak ketekunan para perempuan yang menolak menyerah pada zaman.
Begitu pula dengan Giyanti, yang sejak tahun 1988 telah belajar menjadi perajin batik tulis. Saat itu, usianya baru 12 tahun dan ia masih duduk di bangku kelas VI SD.
Keahliannya menorehkan malam di atas kain didapat dari sang tetangga. Setiap siang sepulang sekolah, ia datang belajar ke rumah Mbah Haji Bari.
Keinginan untuk belajar membatik itu datang dari dirinya sendiri dan mendapat dukungan dari orang tua serta orang-orang di sekitarnya. Kala itu, Giyanti terpikat pada keindahan motif dan warnanya, selain juga karena mudah dipelajari.
Baca tanpa iklan