News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Dari Malam Jadi Harapan: Gerak Bersama Warga Wukirsari Jaga Warisan Dunia

Penulis: Sri Juliati
Editor: Suci BangunDS
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

BELAJAR MEMBATIK - Jiel dan Torn, dua wisatawan asing asal Kanada tengah belajar membatik di salah satu gazebo di Sekretariat Desa Wukirsari, Jalan Giriloyo, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, Senin (20/10/2025). Mereka berkunjung ke Kampung Batik Giriloyo, bagian dari Desa Wisata Wukirsari, sebuah sentra kerajinan batik tulis tradisional tertua dan terbaik di Bantul. Simak kisah para perajin batik tulis tradisional dari Desa Wisata Wukirsari, Bantul, Yogyakarta dalam menjaga warisan dunia.

Setahun kemudian, Desa Wisata Wukirsari meraih penghargaan The Best Tourism Village 2024 dari Organisasi Pariwisata Dunia di bawah Perserikatan Bangsa-bangsa (United Nation World Tourism Organization/UNWTO) pada 14 November 2024. 

Terkait sejumlah penghargaan bergengsi yang diraih Desa Wisata Wukirsari, Nur Ahmadi memilih jawaban bijak. Bagi dia, prestasi yang didapat itu hanyalah bonus.

"Kami akan menganggap sebagai juara, tatkala semakin banyak masyarakat yang menikmati dampak adanya pariwisata," kata Nur.

Harapan itu kini perlahan terwujud. Geliat pariwisata telah membawa perubahan nyata bagi kehidupan warga. Sebagaimana disampaikan Siti Baroroh atau yang karib disapa Ninik (54).

lihat foto BERHASIL MANDIRI - Siti Baroroh atau Ninik, satu di antara pemandu wisata di Desa Wukirsari sekaligus perajin yang sukses mendirikan usaha sendiri setelah sempat menjadi buruh batik dengan upah Rp 6 ribu per tiga hari.

Perajin berusia 54 tahun itu dulunya buruh batik dengan upah hanya Rp6.000 untuk tiga hari kerja. Kini, ia menjadi pemandu wisata sekaligus pemilik usaha Batik Munding Wangi.

"Bikin batik susah, tiga hari nggak selesai, bayarannya sedikit. Siapa yang nggak nelangsa?" kenangnya. Sadar upah yang diterimanya tak akan bisa mencukupi kebutuhan keluarga, Ninik mulai berani mandiri—mencanting, mewarnai, hingga menjual hasilnya sendiri.

Perlahan, usahanya tumbuh. Sepuluh perajin kini bekerja bersamanya. Ninik pun bersyukur karena dari batik, ia bisa membantu memenuhi kebutuhan keluarga, melestarikan warisan yang telah turun-temurun dijaga di desanya.

Saat pandemi menghentikan kegiatan wisata, dua anaknya membantu memasarkan batik lewat Facebook dan Instagram. "Alhamdulillah, langsung ada yang beli, dua-tiga lembar, nilainya lumayan," ujarnya sambil tersenyum.

Bagi Ninik, kolaborasi dengan anak muda adalah napas baru batik Wukirsari. Mereka mungkin tak selalu duduk di depan tungku, tapi lewat kreativitas digital, tradisi itu tetap hidup dan berdenyut.

"Saya sangat berharap sekali, anak-anak muda ikut bergabung memajukan Desa Wisata Wukirsari dan menjaga warisan ini," katanya pelan. Kolaborasi Lintas Generasi

lihat foto GENERASI MUDA - Ahmad Bachtiar (26), tokoh muda yang kini turut aktif menggerakkan Desa Wisata Wukirsari saat ditemui di sela-sela acara Workshop dan Lomba Jurnalisme Feature yang digelar Astra bersama Indonesian Institute of Journalism (IIJ), Senin (20/10/2025).

Harapan ini diamini oleh Ahmad Bachtiar (26), tokoh muda yang kini turut aktif menggerakkan Desa Wisata Wukirsari. Sebagai satu-satunya perwakilan generasi muda yang masuk ke dalam kepengurusan desa wisata, Bachtiar melihat kolaborasi lintas generasi sebagai kunci keberlanjutan Wukirsari.

Ia berkisah, keterlibatannya bermula ketika Desa Wisata Wukirsari bersiap mengikuti ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2022. Saat itu, ada begitu banyak hal yang perlu disiapkan, mulai dari pengumpulan data, dokumentasi, hingga pengisian berkas administrasi.

"Dari situ saya mulai dilibatkan, karena memang dibutuhkan tenaga muda yang bisa membantu di bidang digital dan administrasi," ujar lulusan sarjana dari UNY ini.

Keterlibatan itu berlanjut ketika Desa Wukirsari kembali mengikuti seleksi The Best Tourism Village 2024 dari UNWTO. Tantangannya jauh lebih besar. "Ada sekitar 300 borang yang harus diisi, dan semuanya dalam bahasa Inggris," kenang Bachtiar yang berhasil menyelesaikan tugas tersebut selama tiga bulan.

Banyak pengalaman menarik yang dirasakan oleh Bachtiar. Sesederhana naik pesawat ke Jakarta atau mengikuti Annual Meeting of Best Tourism Villages di Vietnam, pernah dilakoninya.

"Batu loncatannya ya dari desa wisata, dari desa sendiri. Maka boleh saya bilang, kerja di Desa Wisata Wukirsari ini juga membanggakan. Finansial juga patut disyukuri. Apalagi setiap hari selalu ada tamu, bahkan sampai empat sesi. Nah, di akhir tahun ada pembagian Sisa Hasil Usaha (SHU)," jelasnya.

Pengelola desa wisata juga memberi ruang dan insentif agar semangat anak muda terus tumbuh. Misalnya, setiap kali mereka berhasil membawa rombongan wisatawan, akan diberikan marketing fee sebagai bentuk penghargaan atas kontribusinya.

"Kami ingin anak-anak muda dapat terlibat sehingga keberlanjutan Wukirsari akan lebih terjamin," tambahnya.

Kolaborasi di Desa Wukirsari juga tidak hanya antargenerasi, tetapi turut melibatkan berbagai pihak eksternal yang ikut memperkuat fondasi desa wisata. Salah satunya adalah PT Astra International Tbk melalui program Desa Sejahtera Astra (DSA).

Melalui program ini, Astra tidak sekadar mendukung dari sisi infrastruktur, tetapi juga memperkuat sumber daya manusia. Masyarakat, utamanya para perajin dan pelaku UMKM, mendapatkan pelatihan peningkatan kapasitas (capacity building), salah satunya tentang digital marketing.

Beragam pelatihan itu membantu warga, termasuk perajin batik, untuk memasarkan produk mereka secara lebih modern dan efisien. Kini, banyak perajin yang telah mampu memanfaatkan lokapasar digital, membuat konten promosi sendiri, hingga menjangkau pembeli dari luar daerah bahkan mancanegara.

Sementara itu, Head of Brand Communication PT Astra International Tbk, Yudha Prasetya mengatakan, torehan prestasi yang diraih Desa Wisata Wukirsari bukan sekadar penghargaan, melainkan pengakuan atas kerja keras masyarakat yang telah menjaga tradisi, alam, dan budaya sembari membuka diri terhadap perubahan.

"Melalui pendekatan community-based tourism, Desa Wisata Wukirsari berhasil mengembangkan potensi lokal menjadi destinasi wisata berkelas dunia bagi ribuan pengunjung dengan konsep eco-tourism, memadukan tradisi dan budaya," ujar Yudha.

Desa Wukirsari, lanjut Yudha, juga tak hanya dikenal sebagai sentra batik tradisional, melainkan telah menjadi pusat ekonomi kreatif yang telah menghidupi lebih dari 600 perajin batik dan ratusan pelaku UMKM. Hal ini menjadi wujud nyata kolaborasi masyarakat bisa menggerakkan perubahan secara berkelanjutan.

"Astra merasa sangat bangga karena bisa ikut berkontribusi dalam perjalanan ini, sebab Desa Wukirsari merupakan bagian dari program dalam DSA, sebuah inisiatif dari Astra yang dimulai sejak tahun 2013," katanya.

Dengan ditetapkannya Desa Wisata Wukirsari sebagai DSA, maka Astra telah membina lebih dari 1.500 DSA dan Kampung Berseri Astra (KBA) hingga tahun 2024. Menurut Yudha, ini bukan program CSR biasa, tapi bentuk nyata dari Astra dalam mendukung pembangunan daerah pedesaan. (*)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini