Selama berabad-abad lamanya, masyarakat Wukirsari hanya menjadi buruh batik. Mereka sekadar membatik di kain putih lalu dikembalikan kepada juragan-juragan batik di sekitar Keraton Yogyakarta. Hasilnya pun belum mampu menyejahterakan warga.Â
Hingga musibah besar terjadi pada Sabtu pagi, pukul 05.53.58 WIB, tanggal 27 Mei 2006. Gempa berkekuatan Magnitudo (M) 6,3 yang berlangsung selama 57 detik meluluhlantakkan Desa Wukirsari.
Banyak rumah hancur, menyisakan puing-puing. Warga terpaksa tinggal di tempat pengungsian selama berbulan-bulan. Aktivitas membatik yang biasanya menghidupi mereka pun terhenti sama sekali.
Setahun kemudian, warga memilih bangkit melalui warisan terbaik mereka: batik tulis. Dengan dukungan LSM seperti Jogja Heritage Society dan kemitraan Australia–Indonesia, berdirilah Paguyuban Batik Tulis Giriloyo.
Usaha kebangkitan itu ditandai dengan pembuatan selendang sepanjang 2.000 meter dan berhasil memecahkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai selendang batik tulis terpanjang. Proses pembuatan selendang ini melibatkan sekitar 1.000 perajin.
Momen ini juga menandai peresmian Kampung Batik Giriloyo sebagai sentra Batik Tulis Warisan Keraton. Pihak desa juga mulai menyebarluaskan informasi potensi desa bekerja sama dengan berbagai pihak untuk mendatangkan wisatawan.
Hasilnya, kunjungan wisatawan ke Kampung Batik Giriloyo yang kini juga menjadi pusat eduwisata dan pelestarian budaya membatik, mengalami peningkatan setiap tahunnya. Puncaknya pada tahun 2019, jumlah kunjungan wisatawan mencapai 29 ribu dengan total pendapatan sebesar Rp 2 miliar.
"Jadi, jika ingin belajar tentang batik, datanglah ke Desa Wisata Wukirsari. Kami akan memandu semuanya," ujar Nur berpromosi.
Jatuh, Lalu Bangkit Lagi
Lalu, pada tahun 2020, pandemi Covid-19 menghantam. Wisatawan berhenti datang, ekonomi terhenti. Namun warga tak tinggal diam. Mereka membuat SOP kunjungan wisatawan, menggandeng blogger dan influencer untuk promosi digital.
Hasilnya, tahun 2022, kunjungan mencapai 24.000 wisatawan dengan pendapatan Rp 1,3 miliar. Jumlah ini terus meningkat hingga tiga tahun ini.
Nur mengatakan, pengembangan Desa Wisata Wukirsari dilakukan melalui pendekatan kolaboratif berbasis masyarakat (community-based tourism). Segala program dikembangkan dari, oleh, dan untuk masyarakat, sehingga warga menjadi subjek utama dalam setiap proses pembangunan desa wisata.
Warga, terutama pembatik dilibatkan sebagai pendamping para pengunjung yang datang untuk belajar batik. Sehingga tak hanya memperkenalkan batik, para perajin pun turut kecipratan berkah tambahan di luar pekerjaan utama mereka.
"Ketika ada lima wisatawan yang mengambil paket belajar membatik, maka teman-teman pengurus akan memanggil satu perajin sebagai pendamping. Agar semua kelompok mendapat kesempatan, maka sistemnya dibuat bergiliran," jelasnya.
Selain batik, Desa Wisata Wukirsari juga punya potensi wayang kulit di Padukuhan Pucung dan pengobatan tradisional gurah. Semua bersinergi dan berkolaborasi demi keberlanjutan ekonomi lokal.
Atas usaha, semangat, serta kerja keras yang dilakoni masyarakat, Desa Wisata Wukirsari sukses menyabet sebagai juara 1 dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) tahun 2023 kategori Desa Wisata Maju. Desa Wisata Wukirsari juga resmi menjadi Desa Sejahtera Astra (DSA), program Corporate Social Responsibility (CSR) dari PT Astra International Tbk yang fokus pada pengembangan suatu desa.
Baca tanpa iklan