"Dari mboknya le ngajari (dari perajin yang mengajari), disuruh belajar batik. Kan, dapat uang daripada cuma main," tutur Giyanti di sela-sela acara Workshop dan Lomba Jurnalisme Feature yang digelar Astra bersama Indonesian Institute of Journalism (IIJ).
Selayaknya remaja pada umumnya, uang tersebut dipakainya untuk jajan. Semakin lama, tangan Giyanti semakin lincah menari di atas kain. Ia pun berpindah-pindah dari juragan batik yang satu ke yang lain.
Upah yang diterima juga terus bertambah seiring dengan kemampuan membatiknya. Dari yang semula hanya pengisi waktu luang, membatik kini menjadi mata utama pencahariannya.
"Kalau dulu paling takut ya pas ada kesalahan saat membatik, juragannya bilang, 'ini tidak boleh meleset dari polanya dan harus rapi,' atau tangannya terkena lilin panas," ungkap Giyanti menceritakan suka-dukanya selama 37 tahun membatik.
Seiring berjalannya waktu, Giyanti yang kini berusia 49 tahun itu ikut tergabung ke dalam kepengurusan Koperasi Jasa Kampung Batik Giriloyo serta Desa Wisata Wukirsari. Tugas yang rutin dilakoninya adalah mendampingi para wisatawan yang belajar membatik di Desa Wukirsari.
Sembari terkekeh, Giyanti mengenang momen saat membatik bersama wisatawan asing. Ketika menghadapi kendala berkomunikasi, ia biasanya meminta bantuan pemandu wisata yang mendampingi mereka untuk menjelaskan maksud ucapannya.
Jika itu pun belum cukup, Giyanti mengandalkan aplikasi Google Translate di ponselnya. "Kalau sudah mentok, ya pakai bahasa tarzan, gerakan tangan jadi andalan," ujarnya sambil tertawa kecil.
Selama bertahun-tahun menjadi edukator, Giyanti telah mendampingi wisatawan dari berbagai negara mulai dari Singapura, Australia, Jepang, Turki, hingga Ukraina. Ia merasa bangga setiap kali melihat wisatawan antusias belajar batik. "Bahkan, ada di antara mereka yang langsung paham hanya dengan sekali penjelasan," kata Giyanti.
Baginya, setiap kunjungan ke Desa Wisata Wukirsari, bukan hanya tentang ekonomi, tapi juga tentang bagaimana batik khas Kampung Giriloyo dikenal luas hingga mancanegara.
Sejarah Kampung Batik Giriloyo
Perjalanan Giyanti hanyalah satu dari banyak kisah perempuan di Desa Wisata Wukirsari yang menjaga warisan batik agar tak hanya menjadi peninggalan, tetapi juga penghidupan.
Ketua II Desa Wisata Wukirsari, Nur Ahmadi menyebut, ada 634 perajin batik tulis tradisional di kampungnya yang 90 persennya adalah perempuan. Mereka tersebar di tiga padukuhan: Cengkehan, Giriloyo, dan Karangkulon.
Setiap hari, para perajin memproduksi kain batik tulis berukuran 3x5 meter dengan motif khas yang diwariskan turun-temurun. Teknik yang digunakan semuanya manual, dari membuat pola, mencanting malam panas, hingga proses pelorodan untuk menghilangkan lilin.
"Untuk pewarnaan, kami menggunakan pewarna alam dari tumbuhan lokal seperti daun indigofera, jolawe, kulit kayu mahoni, daun mangga serta pewarna sintetis," kata Nur.
Nur menjelaskan, perjalanan batik di Kampung Batik Giriloyo dimulai pada tahun 1634, dua tahun setelah Kerajaan Mataram yang dipimpin oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma mulai membangun kompleks pemakaman di Bukit Merak, Imogiri. Selama proses pembangunan, terjadi transfer ilmu membatik dengan masyarakat Giriloyo.
"Karena ini adalah kampung yang terdekat dengan kompleks pembangunan makam-makam Raja, maka (nenek moyang) kami di sini diajari membuat batik tulis, yang awalnya dikerjakan oleh para puteri atau keluarga kerajaan," ujar Nur.
Baca tanpa iklan