Cerita UMKM rumahan bisa menjangkau dunia lahir dengan berbagai permasalahnya. BRI berperan menyiapkan, menguatkan lalu menerbangkannya.
TRIBUNNEWS.COM - Pagi itu, Elliyina atau Eli berdiri di dapur sempit rumahnya di pinggiran Kota Solo. Tangan kirinya mengaduk adonan emping, tangan kanan menghaluskan melinjo yang baru digoreng.
Di belakangnya, sang anak yang pernah jatuh sakit—alasan ia keluar dari pekerjaan beberapa tahun lalu—menunggu sarapan.
Tak jauh berjarak satu lemparan batu, di meja, tumpukan pesanan menanti dikemas. Sebagian untuk toko lokal, sebagian lainnya… anehnya bertuliskan Vancouver, Kanada.
Eli menghela napas. Bukan karena lelah, tetapi karena sulit percaya. Semua ini bermula dari masa ketika ia “nganggur sambil momong anak”, dan bingung bagaimana caranya bertahan hidup.
Namun kisahnya juga memotret masalah yang lebih besar. Bagaimana jutaan UMKM mikro Indonesia, yang menopang 97 persen tenaga kerja nasional, sering kali tersendat hanya karena akses ke modal, pelatihan, dan pasar yang terbatas.
Eli adalah satu dari mereka. Dan dulu, ia nyaris menyerah.
Di tengah peran UMKM yang menyumbang 61 persen PDB Indonesia, masih banyak usaha rumahan terjebak stagnasi karena tidak tersambung ke ekosistem keuangan formal.
Eli mengenang titik balik kehidupannya.
“Saya dulu resign karena anak sakit. Habis itu bingung mau apa,” ujarnya ketika ditemui Tribunews, pada Jumat (28/11/2025).
Pada 2017, ia meninggalkan pekerjaannya sebagai staf humas dan content writer karena anaknya membutuhkan perhatian penuh.
Ia mencoba membuka toko kelontong, kemudian les privat.
Baca juga: Menjaga Rasa, Membangun Bangsa: UMKM Bakpia Fadila di Pusat Pemberdayaan BRI
Dua-duanya berhenti sebelum benar-benar jalan.
Tabungan menipis. Tekanan ekonomi makin terasa.
Tahun 2018, dalam situasi penuh tekanan, seorang teman menyarankan agar Eli mencoba produksi emping melinjo.
Baca tanpa iklan